Mengenal Lebih Dekat Misi Iwakura: Perjalanan Penting Jepang Modern
Misi Iwakura adalah salah satu misi diplomatik dan studi terpenting dalam sejarah Jepang modern. Perjalanan besar ini dilakukan oleh para pemimpin kunci Pemerintahan Meiji antara tahun 1871 hingga 1873. Dipimpin oleh Pangeran Iwakura Tomomi, misi ini membawa hampir 100 delegasi, termasuk pejabat tinggi pemerintah, cendekiawan, dan bahkan beberapa siswa muda. Tujuan utamanya ganda: pertama, mencoba menegosiasikan ulang perjanjian yang tidak setara dengan kekuatan Barat, dan kedua, mempelajari secara mendalam peradaban Barat, terutama teknologi, industri, sistem politik, hukum, dan pendidikan mereka. Ini adalah langkah proaktif yang ambisius dari negara yang baru saja membuka diri setelah berabad-abad isolasi.
Image just for illustration
Perjalanan ini memakan waktu hampir dua tahun, melintasi Amerika Serikat dan beberapa negara besar di Eropa. Para anggota misi mengunjungi pabrik, pelabuhan, sekolah, universitas, pengadilan, parlemen, dan instalasi militer. Mereka bertemu dengan presiden, raja, menteri, dan para pemimpin industri. Pengamatan mereka, yang didokumentasikan secara rinci, menjadi cetak biru bagi reformasi radikal yang mengubah Jepang dari negara feodal menjadi kekuatan dunia dalam hitungan dekade.
Sejarah & Latar Belakang Misi¶
Untuk memahami pentingnya Misi Iwakura, kita perlu melihat kondisi Jepang pada pertengahan abad ke-19. Selama lebih dari 200 tahun, Jepang berada di bawah kekuasaan Keshogunan Tokugawa dan menjalankan kebijakan isolasi ketat yang disebut Sakoku. Perdagangan dan kontak dengan dunia luar sangat dibatasi, kecuali dengan Belanda di Nagasaki dan beberapa negara Asia lainnya. Kebijakan ini menjaga perdamaian internal tetapi membuat Jepang tertinggal jauh dalam teknologi dan kekuatan militer dibandingkan negara-negara Barat.
Situasi berubah drastis pada tahun 1853-1854 ketika Komodor Matthew Perry dari Angkatan Laut Amerika Serikat tiba dengan “kapal-kapal hitam” dan memaksa Jepang membuka pelabuhannya. Kedatangan Perry dan ancaman kekuatan militernya memaksa Keshogunan menandatangani perjanjian yang tidak setara. Perjanjian ini memberikan hak ekstrateritorial kepada warga negara Barat (mereka tidak tunduk pada hukum Jepang) dan membatasi kemampuan Jepang untuk menetapkan tarif impor (otonomi tarif terbatas). Hal ini sangat merugikan Jepang dan menunjukkan kelemahan Keshogunan.
Ketidakpuasan terhadap Keshogunan dan kesadaran akan perlunya modernisasi untuk menghadapi ancaman Barat memicu Revolusi Meiji pada tahun 1868. Keshogunan digulingkan, dan kekuasaan dikembalikan ke Kaisar (yang masih muda, Kaisar Meiji). Pemerintahan Meiji yang baru dibentuk sangat bertekad untuk memperkuat Jepang dan mencegahnya menjadi sasaran kolonisasi seperti banyak negara Asia lainnya. Slogan mereka adalah “Fukoku Kyohei” (Negara Kaya, Tentara Kuat). Para pemimpin Meiji menyadari bahwa untuk mencapai tujuan ini, mereka harus belajar dari Barat yang telah maju. Mengirim misi tingkat tinggi untuk melihat langsung kekuatan dan institusi Barat dianggap sebagai langkah krusial.
Tokoh-tokoh Penting dalam Misi¶
Misi Iwakura bukanlah sekadar perjalanan wisata; itu adalah misi studi yang serius dan mendalam. Delegasi ini terdiri dari beberapa figur paling berpengaruh dalam Pemerintahan Meiji.
- Iwakura Tomomi: Sebagai pemimpin misi, Pangeran Iwakura adalah seorang bangsawan istana yang memiliki peran penting dalam Restorasi Meiji. Kehadirannya memberikan legitimasi dan bobot politis yang besar pada misi ini.
- Kido Takayoshi: Salah satu “Tiga Pahlawan Besar” Restorasi Meiji dari Domain Choshu. Ia sangat tertarik pada sistem politik dan konstitusional Barat, khususnya gagasan parlemen dan pemerintahan perwakilan.
- Okubo Toshimichi: Juga dari Satsuma dan salah satu “Tiga Pahlawan Besar.” Okubo adalah pragmatis yang fokus pada kekuatan ekonomi dan industri. Ia sangat terkesan dengan organisasi pemerintah terpusat dan pengembangan industri di Barat.
- Ito Hirobumi: Figur muda yang brilian dari Choshu. Ia kemudian menjadi Perdana Menteri pertama Jepang. Ito sangat teliti dalam mempelajari sistem hukum, konstitusi, dan struktur birokrasi negara.
- Yamagata Aritomo: Pemimpin militer dari Choshu. Ia fokus mempelajari organisasi militer, strategi, dan teknologi persenjataan Barat, yang kemudian ia gunakan untuk membangun Angkatan Darat Jepang modern.
- Tanaka Fujimaro: Bertanggung jawab atas studi sistem pendidikan. Pengamatannya sangat penting dalam membentuk sistem pendidikan modern Jepang.
Selain para pemimpin ini, ada juga pejabat yang ahli di bidang keuangan, hukum, teknik, dan bidang lainnya. Yang menarik, misi ini juga menyertakan sejumlah siswa muda, termasuk lima gadis yang dikirim untuk belajar di Amerika Serikat. Salah satunya adalah Tsuda Umeko, yang kemudian mendirikan Tsuda University, salah satu universitas wanita paling bergengsi di Jepang. Keikutsertaan siswa ini menunjukkan pandangan jangka panjang misi untuk membangun sumber daya manusia Jepang di masa depan.
Struktur Delegasi¶
Misi ini memiliki struktur yang jelas untuk memastikan setiap aspek penting dipelajari. Berikut gambaran sederhananya menggunakan diagram Mermaid:
mermaid
graph TD
A[Kepala Misi: Pangeran Iwakura Tomomi] --> B[Wakil Kepala Misi];
B --> C1(Kido Takayoshi);
B --> C2(Okubo Toshimichi);
B --> C3(Ito Hirobumi);
B --> C4(Yamagata Aritomo);
A --> D[Pejabat Senior & Peneliti];
D --> E1(Ahli Hukum);
D --> E2(Ahli Ekonomi/Industri);
D --> E3(Ahli Pendidikan);
D --> E4(Ahli Militer);
A --> F[Staf Pendukung & Penerjemah];
A --> G[Siswa Muda];
G --> G1(Tsuda Umeko, dll.)
Diagram ilustrasi struktur Misi Iwakura secara umum.
Setiap anggota senior dan timnya diberi tugas spesifik untuk mengamati dan melaporkan kembali temuan di bidang keahlian mereka.
Rute Perjalanan & Pengalaman di Barat¶
Misi Iwakura memulai perjalanannya pada 23 Desember 1871 dari Yokohama. Rute mereka sangat luas:
- Amerika Serikat: Mereka tiba di San Francisco pada Januari 1872. Kemudian melintasi benua menggunakan kereta api (perjalanan yang mengesankan di tengah pembangunan jalur kereta api transkontinental AS). Mereka mengunjungi kota-kota besar seperti Salt Lake City, Chicago, Washington D.C., Philadelphia, Boston, dan New York. Di AS, mereka mengamati sistem federal, industri (terutama kereta api, pertambangan), pendidikan (universitas seperti Harvard), dan institusi pemerintahan. Mereka bahkan bertemu dengan Presiden Ulysses S. Grant.
- Eropa: Setelah AS, mereka berlayar melintasi Atlantik ke Eropa. Inggris Raya adalah negara pertama yang mereka kunjungi (pertengahan 1872). Mereka menghabiskan waktu lama di Inggris, mengunjungi pabrik-pabrik (tekstil, baja), galangan kapal, pelabuhan (Liverpool, London), bank (Bank of England), dan Parlemen Inggris. Industri Inggris yang maju dan sistem politiknya yang mapan memberikan kesan mendalam.
- Prancis: Selanjutnya mereka ke Prancis. Mereka mempelajari sistem hukum Prancis (Kode Napoleon), organisasi militer, dan industri (pabrik sutra Lyon, galangan kapal Toulon). Paris yang megah dan budaya Prancis juga menjadi fokus observasi.
- Negara-negara Lain: Misi ini juga mengunjungi Belgia, Belanda, Jerman, Rusia, Denmark, Swedia, Italia, Austria, dan Swiss. Di Jerman, mereka sangat terkesan dengan kekuatan militer Prusia dan sistem pemerintahan yang kuat di bawah Otto von Bismarck. Ito Hirobumi dan kawan-kawan mempelajari konstitusi dan sistem hukum Jerman, yang nantinya sangat memengaruhi Konstitusi Meiji. Di Italia, mereka melihat warisan budaya dan organisasi negara-kota. Di negara-negara lain, mereka mempelajari aspek-aspek spesifik seperti pendidikan (Swiss), pertanian (Belanda), dan militer (Rusia).
Sepanjang perjalanan, para anggota misi mencatat detail pengamatan mereka, mengumpulkan dokumen, dan berinteraksi dengan para ahli dan pejabat lokal. Mereka sering kali terkejut oleh skala dan kemajuan peradaban Barat, dari infrastruktur kota, kekuatan industri, hingga kompleksitas sistem politik dan sosial.
Kegagalan Negosiasi Perjanjian¶
Salah satu tujuan utama Misi Iwakura adalah mencoba menegosiasikan ulang perjanjian yang tidak setara yang telah ditandatangani Jepang. Para delegasi, terutama Kido Takayoshi dan Okubo Toshimichi, berharap dapat meyakinkan kekuatan Barat untuk merevisi perjanjian tersebut, misalnya dengan memulihkan otonomi tarif Jepang dan menghapus hak ekstrateritorial.
Namun, upaya negosiasi ini dengan cepat menemui jalan buntu. Pihak Barat tidak menunjukkan keinginan kuat untuk merevisi perjanjian, kecuali dengan imbalan konsesi yang lebih besar dari Jepang, seperti mengizinkan penyebaran agama Kristen secara bebas di seluruh Jepang. Selain itu, para pemimpin Barat berargumen bahwa Jepang belum memiliki sistem hukum dan pengadilan yang modern dan dapat diandalkan setara dengan standar Barat. Tanpa itu, mereka tidak bersedia melepaskan hak ekstrateritorial bagi warga negaranya.
Kenyataan ini menjadi pukulan telak bagi misi tersebut, namun pada saat yang sama, ini adalah pelajaran krusial. Para pemimpin misi menyadari bahwa Jepang tidak bisa bernegosiasi dari posisi lemah. Untuk bisa diperlakukan setara oleh kekuatan Barat, Jepang harus terlebih dahulu menjadi negara yang kuat, modern, dan memiliki institusi yang diakui secara internasional. Kegagalan ini justru memperkuat tekad mereka untuk fokus pada tujuan kedua misi: belajar dari Barat untuk melakukan reformasi internal secara drastis. Beberapa anggota misi, seperti Okubo, bahkan kembali ke Jepang lebih awal pada tahun 1873 untuk mulai mendorong reformasi berdasarkan apa yang telah mereka lihat dan pelajari.
Dampak & Keberhasilan Misi¶
Meskipun gagal dalam negosiasi perjanjian awal, Misi Iwakura adalah keberhasilan luar biasa dalam hal studi dan pengumpulan informasi. Pengalaman langsung para pemimpin kunci Jepang melihat kekuatan dan institusi Barat memberikan mereka pemahaman yang mendalam tentang apa yang diperlukan untuk membangun negara modern.
Hasil pengamatan mereka didokumentasikan dalam laporan rinci berjudul “Bei-O Kairan Jikki” (Catatan Sejati Tur di Amerika dan Eropa) yang terdiri dari 100 volume, disusun oleh Kume Kunitake, sejarawan dalam misi tersebut. Laporan ini, bersama dengan pengetahuan dan visi para anggota misi yang kembali, secara fundamental membentuk arah kebijakan Jepang selama periode Meiji.
Berikut beberapa dampak spesifik dari Misi Iwakura terhadap modernisasi Jepang:
- Reformasi Politik: Melihat sistem pemerintahan di Barat, terutama di Jerman dan Inggris, menginspirasi para pemimpin Meiji untuk membentuk negara modern dengan konstitusi dan parlemen. Ito Hirobumi, yang banyak belajar di Jerman, berperan penting dalam penyusunan Konstitusi Meiji (1889), yang mengambil banyak elemen dari model Prusia.
- Reformasi Hukum: Observasi terhadap sistem hukum di Prancis dan Jerman mengarah pada kodifikasi hukum modern di Jepang. Jepang mengadopsi kode sipil, pidana, dan komersial yang didasarkan pada model kontinental Eropa. Hal ini krusial untuk negosiasi ulang perjanjian di masa depan.
- Industrialisasi: Kunjungan ke pabrik, tambang, dan pelabuhan di Inggris, Jerman, dan AS meyakinkan para pemimpin Meiji tentang pentingnya industrialisasi. Pemerintah secara aktif mempromosikan pembangunan industri, kereta api, telegraf, galangan kapal, dan sistem perbankan modern, sering kali dengan bantuan teknologi dan ahli dari Barat yang mereka lihat sendiri.
- Reformasi Pendidikan: Melihat sistem pendidikan universal di Barat, seperti di AS dan Swiss, mendorong Jepang untuk mendirikan sistem pendidikan wajib nasional. Tanaka Fujimaro, yang memimpin studi pendidikan, memainkan peran kunci dalam implementasi kebijakan ini. Pendirian universitas modern juga dipercepat.
- Reformasi Militer: Yamagata Aritomo dan yang lainnya mempelajari organisasi militer di Prusia (untuk angkatan darat) dan Inggris (untuk angkatan laut). Ini mengarah pada reorganisasi radikal Angkatan Darat dan Laut Jepang, mengadopsi teknologi dan taktik modern yang mereka saksikan.
- Perubahan Sosial: Misi ini juga memengaruhi aspek sosial, seperti adopsi kalender Gregorian, penggunaan jam tangan, gaya rambut dan pakaian Barat oleh beberapa kalangan, serta pembangunan infrastruktur perkotaan yang lebih modern.
Warisan Misi Iwakura¶
Misi Iwakura sering dianggap sebagai salah satu titik balik terpenting dalam sejarah Jepang modern. Ini bukan hanya perjalanan studi, tetapi juga deklarasi niat dari Jepang: kami akan belajar dari yang terbaik di dunia untuk menjadi negara yang kuat dan mandiri.
Pengalaman langsung melihat kekuatan dan kompleksitas dunia Barat menghilangkan keraguan yang mungkin ada dan memberikan urgensi yang luar biasa pada proses reformasi. Para pemimpin Meiji kembali dengan pemahaman yang jelas tentang tantangan di depan dan cetak biru kasar tentang bagaimana menghadapinya.
Misi ini juga menunjukkan kemampuan adaptasi dan pembelajaran yang luar biasa dari Jepang. Mereka tidak hanya meniru secara membabi buta, tetapi memilih elemen-elemen dari berbagai negara Barat yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Jepang, lalu mengadaptasinya. Misalnya, mereka mengambil sistem konstitusional dari Jerman, sistem angkatan laut dari Inggris, dan sistem pendidikan dari AS, lalu menggabungkannya dengan tradisi dan struktur sosial Jepang.
Keberhasilan modernisasi Jepang, yang memungkinkan mereka merevisi perjanjian tidak setara pada awal abad ke-20 dan muncul sebagai kekuatan besar di panggung dunia, secara langsung terkait dengan visi dan informasi yang dikumpulkan oleh Misi Iwakura. Misi ini membuktikan bahwa kepemimpinan yang visioner, kemauan untuk belajar dari orang lain, dan implementasi reformasi yang berani dapat mengubah nasib suatu bangsa dalam waktu singkat.
Fakta Menarik Seputar Misi Iwakura¶
- Awalnya direncanakan hanya berlangsung sekitar enam bulan, namun diperpanjang menjadi hampir dua tahun karena banyaknya hal yang ingin mereka pelajari.
- Jumlah delegasi yang mencapai hampir 100 orang sangat besar dan mahal untuk ukuran waktu itu, menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Jepang dalam misi ini.
- Lima gadis muda yang dikirim untuk belajar di AS, termasuk Tsuda Umeko, menghabiskan bertahun-tahun di sana untuk mendapatkan pendidikan tinggi sebelum kembali ke Jepang dan menjadi tokoh berpengaruh di bidang pendidikan wanita.
- Selama misi berada di luar negeri, terjadi perdebatan sengit di dalam pemerintahan Jepang mengenai invasi ke Korea (Seikanron). Ketika anggota misi kembali, mereka yang pro-reformasi internal seperti Okubo berhasil menekan faksi pro-invasi, menegaskan prioritas pada pembangunan kekuatan domestik terlebih dahulu.
- Laporan Bei-O Kairan Jikki tidak hanya penting bagi Jepang tetapi juga menjadi sumber berharga bagi para sejarawan di seluruh dunia untuk memahami pandangan luar terhadap peradaban Barat pada akhir abad ke-19. Laporan ini detail, objektif, dan mencakup berbagai aspek kehidupan di Barat.
Misi Iwakura adalah kisah yang memukau tentang bagaimana sebuah negara, dihadapkan pada tantangan eksistensial, memilih jalan belajar, beradaptasi, dan mereformasi diri untuk mengamankan masa depannya. Ini adalah contoh kuat tentang kekuatan observasi, pertukaran budaya, dan kepemimpinan yang visioner.
Apa pendapatmu tentang Misi Iwakura ini? Bagian mana yang paling menarik perhatianmu? Yuk, bagikan pikiranmu di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar