Mengenal Riya dan Sum'ah: Penyakit Hati yang Bikin Ibadah Sia-sia
Pernah dengar istilah riya dan sum’ah? Bagi sebagian orang, mungkin ini terdengar asing. Tapi dalam ajaran agama, khususnya Islam, dua hal ini dikenal sebagai penyakit hati yang sangat berbahaya. Mereka bisa menggerogoti kebaikan amal ibadah kita sampai ludes, bahkan tanpa kita sadari. Yuk, kita kupas tuntas apa sih sebenarnya riya dan sum’ah itu, kenapa berbahaya, dan gimana caranya biar kita terhindar dari jebakan ini.
Apa itu Riya’?¶
Secara bahasa, kata “riya’” berasal dari kata ra’a yang artinya melihat. Jadi, riya’ itu intinya adalah melakukan suatu amal kebaikan dengan tujuan agar dilihat oleh orang lain. Tujuannya bukan semata-mata karena Allah SWT, tapi karena ingin mendapatkan pujian, sanjungan, atau kedudukan di mata manusia. Intinya, motif beramal jadi bergeser dari mencari ridha Allah ke mencari perhatian dan pengakuan manusia.
Image just for illustration
Ini bukan berarti kita nggak boleh dilihat orang lain saat beramal ya. Misalnya, salat berjamaah di masjid pasti dilihat banyak orang. Sedekah di depan umum juga dilihat. Yang jadi masalah adalah niat atau motif di balik amal tersebut. Kalau niat utamanya karena Allah, lalu orang lain melihat dan itu memotivasi mereka ikut berbuat baik, itu beda urusannya. Tapi kalau niatnya dari awal atau saat melakukan itu biar dipuji “Wah, rajin banget salatnya!”, “Baik banget ya dia sedekah segitu banyaknya!”, nah itu yang namanya riya’.
Riya’ ini bisa datang dalam berbagai bentuk dan level. Ada yang riya’ total, artinya seluruh amalannya hanya untuk pamer. Ada juga yang riya’ parsial, awalnya niat karena Allah, tapi di tengah jalan atau saat dilihat orang, niatnya jadi bercampur atau bergeser karena ingin dipuji. Bahkan riya’ bisa muncul hanya dengan memperbaiki amalan saat ada orang lain yang melihat, padahal kalau sendirian nggak begitu. Seram ya? Setan pintar banget godanya.
Jenis-Jenis Riya’¶
Riya’ nggak cuma soal pamerin ibadah ritual kayak salat atau puasa aja lho. Riya’ ini bisa merasuki banyak aspek kehidupan kita yang terkait dengan kebaikan. Secara umum, riya’ bisa dibagi jadi beberapa jenis, tergantung di mana ia bersembunyi:
Riya’ dalam Perbuatan (Amal Jasmani)¶
Ini yang paling sering terbayang kalau bicara riya’. Melakukan gerakan salat yang khusyuk banget padahal kalau sendirian gerakannya cepat. Baca Al-Quran dengan suara merdu dan berlagak sedih saat ada orang di dekatnya. Bersedekah dengan jumlah besar di depan banyak orang atau sambil difoto biar viral. Semua gerakan fisik atau perbuatan baik yang dilakukan biar dapat pujian dari orang lain.
Contoh lain: rajin ikut kegiatan sosial atau keagamaan di komunitas biar dianggap alim atau dermawan. Memperlihatkan pakaian ibadah atau atribut keagamaan biar kelihatan religius. Intinya, aksi lahiriah yang diperindah atau ditingkatkan kualitasnya hanya saat ada audiens.
Riya’ dalam Ucapan (Amal Lisan)¶
Riya’ juga bisa muncul dari lisan kita. Misalnya, menceritakan amal kebaikan yang sudah dilakukan (nah, ini mulai nyambung ke sum’ah, tapi riya’ lisan bisa juga saat berinteraksi). Berbicara tentang ilmu agama dengan gaya bahasa yang rumit dan kutipan-kutipan Arab biar dianggap pintar. Menceritakan mimpi-mimpi yang berhubungan dengan hal baik atau mengaku sering mendapat “ilham” biar dianggap punya kedudukan spiritual tinggi.
Bisa juga dalam bentuk nasihat atau dakwah. Nasihatnya bagus, isinya benar, tapi di balik itu ada niat biar dianggap orator ulung atau penceramah hebat. Hati-hati banget, karena lisan itu mudah tergelincir. Kadang niat awalnya tulus, tapi saat di tengah pembicaraan, muncul rasa bangga dan keinginan untuk dipuji.
Riya’ dalam Penampilan (Amal Lahiriah)¶
Ini terkait cara kita berpakaian atau berpenampilan secara umum. Berusaha tampil sangat sederhana dan lusuh biar dianggap zuhud dan nggak cinta dunia. Atau sebaliknya, tampil sangat mewah dan rapi biar dianggap sukses dan dermawan (kalau mengaitkannya dengan kemampuan bersedekah misalnya). Memakai atribut keagamaan tertentu (misal peci, jilbab syar’i, gamis) bukan karena kewajiban atau kenyamanan, tapi biar dicap sebagai orang saleh/salehah.
Intinya, penampilan lahiriah kita diatur sedemikian rupa agar menimbulkan kesan tertentu di mata orang lain, yang kesannya itu kita harapkan akan mendatangkan pujian atau penghormatan.
Bahaya dan Konsekuensi Riya’¶
Kenapa riya’ itu dianggap berbahaya banget? Karena riya’ itu merusak fondasi utama diterimanya amal ibadah, yaitu keikhlasan. Allah SWT hanya menerima amalan yang murni ditujukan hanya untuk-Nya. Saat riya’ masuk, amal itu jadi ternodai atau bahkan batal sepenuhnya.
Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman, “Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh pada sekutu. Barang siapa mengerjakan suatu amal yang di dalamnya dicampuri dengan perbuatan syirik kepada-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim). Riya’ ini termasuk dalam kategori syirik ashghar atau syirik kecil, karena menduakan Allah dalam niat beramal. Ini bukan syirik besar yang mengeluarkan dari Islam, tapi dampaknya sangat serius terhadap amal.
Konsekuensi riya’ sangat mengerikan:
1. Amal tidak diterima: Segala jerih payah melakukan amal kebaikan jadi sia-sia di mata Allah. Nggak dapat pahala sama sekali.
2. Mendapat murka Allah: Pelaku riya’ justru bisa mendapat dosa dan kemurkaan Allah karena telah mempersekutukan-Nya dalam niat.
3. Dihina di Hari Kiamat: Orang yang riya’ di dunia, di akhirat justru akan dipermalukan dan diseru, “Wahai fulan, ini dia orang yang kamu beramal untuknya di dunia. Mintalah balasan darinya!” Tentu saja manusia nggak bisa memberi balasan apa pun di akhirat. Ini penghinaan yang pedih.
4. Tidak mendapat berkah dari amal: Meskipun di dunia mungkin mendapat pujian atau kedudukan, amal riya’ tidak akan mendatangkan keberkahan sejati.
Riya’ itu seperti benalu dalam pohon kebaikan. Dia tumbuh dan mengambil nutrisi dari amal saleh kita, tapi justru merusaknya dari dalam. Sangat sulit dikenali karena seringkali tersembunyi di balik niat yang bercampur.
Apa itu Sum’ah?¶
Kalau riya’ terkait dengan apa yang dilihat, sum’ah terkait dengan apa yang didengar. Secara bahasa, sum’ah berasal dari kata sami’a yang artinya mendengar. Jadi, sum’ah adalah menceritakan atau memberitahukan amal kebaikan yang sudah dilakukan kepada orang lain dengan tujuan agar didengar dan mendapatkan pujian atau sanjungan dari mereka.
Perbedaan utamanya dengan riya’ terletak pada waktu terjadinya. Riya’ biasanya terjadi sebelum atau saat amal dilakukan. Sum’ah terjadi setelah amal selesai dilakukan. Pelaku sum’ah sengaja menyebarkan atau menceritakan amalnya (entah itu shalat malam, puasa sunnah, sedekah diam-diam, dll) agar orang lain tahu dan memujinya.
Image just for illustration
Sama seperti riya’, menceritakan amal nggak selalu jadi sum’ah ya. Kalau kita menceritakan amal sedekah misalnya, tujuannya untuk memotivasi orang lain agar ikut bersedekah, itu bukan sum’ah. Kalau kita menceritakan pengalaman hijrah kita untuk diambil pelajarannya oleh orang lain, itu juga bukan sum’ah. Sum’ah terjadi kalau niat utamanya adalah agar diri sendiri dipuji karena sudah melakukan kebaikan itu.
Contoh-Contoh Sum’ah¶
Sum’ah ini juga bisa masuk ke berbagai aspek:
* Menceritakan shalat malam: “Alhamdulillah semalam bisa tahajud 11 rakaat.” Padahal tujuannya biar dianggap ahli ibadah.
* Menceritakan puasa sunnah: “Wah, hari ini lemes banget nih, soalnya lagi puasa Daud.” Dengan nada yang biar dikasihani atau dipuji kesungguhannya.
* Menceritakan sedekah: “Kemarin saya bantu biaya pengobatan si fulan, kasihan banget dia.” Dengan nada yang membanggakan diri.
* Menceritakan ibadah haji/umrah: Terlalu sering dan berlebihan menceritakan detail ibadahnya dengan tujuan agar dianggap mabrur dan dihormati.
* Menceritakan kebaikan pada orang tua/pasangan: “Alhamdulillah, saya selalu gini ke orang tua saya…” atau “Suami/istri saya tuh beruntung banget punya saya yang gini…” dengan niat pamer dan minta dipuji.
Intinya, “promosi diri” terkait kebaikan yang sudah dilakukan, dengan motif mendapatkan pujian dari orang lain yang mendengar.
Bahaya dan Konsekuensi Sum’ah¶
Bahaya sum’ah serupa dengan riya’, karena keduanya adalah bentuk syirik ashghar (syirik kecil) dalam niat. Menceritakan amal agar dipuji manusia berarti kita mencari “balasan” dari manusia, bukan hanya dari Allah.
Konsekuensinya juga sama berat:
1. Amal bisa rusak/tidak diterima: Meskipun amalnya sudah selesai dilakukan dengan niat baik, menceritakannya dengan motif sum’ah bisa mengurangi atau bahkan menghapus pahalanya.
2. Mendapat murka Allah: Allah tidak suka hamba-Nya pamer amal dan mencari pujian dari selain-Nya.
3. Dihina di Hari Kiamat: Sama seperti pelaku riya’, pelaku sum’ah akan dipermalukan di hadapan seluruh makhluk di hari perhitungan.
Sum’ah ini kadang lebih sulit dihindari karena datang setelah amal selesai. Kita merasa aman karena amalnya sudah lewat dan niatnya saat itu sudah benar. Tapi godaan untuk “berbagi” kebaikan itu dengan bumbu kebanggaan diri bisa datang belakangan.
Riya dan Sum’ah: Dua Sisi Mata Uang Syirik Kecil¶
Riya dan sum’ah sering dibicarakan bersama karena keduanya merupakan manifestasi dari penyakit hati yang sama: mencari perhatian dan pujian dari manusia dalam beramal kebaikan, bukan semata-mata karena Allah. Keduanya sama-sama merusak keikhlasan dan bisa menggugurkan pahala amal.
Image just for illustration
Bedanya, seperti yang sudah disebut:
* Riya’ terjadi sebelum atau saat amal dilakukan, fokusnya agar dilihat.
* Sum’ah terjadi setelah amal dilakukan, fokusnya agar didengar.
Keduanya adalah pintu masuk setan untuk merusak hubungan kita dengan Allah melalui amalan kita. Setan nggak peduli seberapa banyak kita beramal, asalkan amalan itu nggak ikhlas dan nggak diterima Allah.
Tanda-Tanda Riya’ dan Sum’ah pada Diri Sendiri¶
Mendeteksi riya’ dan sum’ah pada diri sendiri itu sulit, karena ini penyakit hati yang paling halus. Tapi ada beberapa “gejala” yang bisa kita waspadai:
1. Berubahnya kualitas amal saat dilihat orang: Kualitas ibadah jadi meningkat drastis saat ada orang lain, tapi biasa-biasa aja (atau menurun) saat sendirian.
2. Merasa senang berlebihan saat dipuji: Hati berbunga-bunga, bangga, dan ingin orang lain tahu lebih banyak tentang kebaikan kita.
3. Merasa kecewa saat tidak mendapat pengakuan: Sedih atau kesal kalau kebaikan yang sudah dilakukan (dan berharap diketahui) ternyata nggak ada yang tahu atau nggak ada yang memuji.
4. Sering menceritakan amal kebaikan: Terlalu sering “curhat” atau “berbagi” tentang amal saleh yang dilakukan, dengan kecenderungan menonjolkan peran diri sendiri.
5. Melakukan kebaikan demi pencitraan: Misalnya, aktif di media sosial hanya untuk menunjukkan sisi religius atau dermawan, padahal di kehidupan nyata nggak begitu.
6. Memilih amal yang “terlihat”: Lebih semangat melakukan amal yang mudah dilihat atau diceritakan daripada amal-amal tersembunyi (seperti shalat malam, sedekah diam-diam, baca Quran sendirian).
Penting diingat, tanda-tanda ini adalah untuk introspeksi diri ya, bukan untuk menghakimi orang lain. Kita nggak pernah tahu niat di hati seseorang. Fokuslah pada diri sendiri untuk membersihkan niat.
Bagaimana Cara Menghindari Riya’ dan Sum’ah? Kunci Ada pada Keikhlasan!¶
Musuh terbesar riya’ dan sum’ah adalah ikhlas. Ikhlas artinya memurnikan niat beramal hanya karena Allah semata, mengharapkan ridha dan pahala dari-Nya, bukan dari manusia. Menggapai ikhlas itu perjuangan seumur hidup, nggak bisa instan.
Berikut beberapa tips praktis untuk melatih diri agar terhindar dari riya’ dan sum’ah:
1. Perbaiki Niat Sebelum, Saat, dan Setelah Beramal¶
Niat itu penentu. Sebelum mulai beramal, pasang niat yang kuat: “Aku melakukan ini hanya karena Engkau ya Allah, mencari ridha-Mu.” Saat sedang beramal, ingatkan lagi diri sendiri, “Aku sedang berhadapan dengan Allah, bukan dengan manusia.” Setelah selesai beramal, jaga lisan dan hati agar tidak tergelincir menceritakan dengan motif mencari pujian. Ucapkan Alhamdulillah, bersyukur pada Allah yang telah memberi taufik bisa beramal.
2. Sembunyikan Amal Kebaikan Sebisa Mungkin¶
Ini adalah cara paling efektif untuk memerangi riya’ dan sum’ah. Amal yang tersembunyi (seperti shalat malam, puasa sunnah yang tidak diumumkan, sedekah diam-diam, membaca Al-Quran sendirian) lebih murni dari godaan riya’ dan sum’ah. Amal yang tersembunyi, hanya kita dan Allah yang tahu, itu nilainya luar biasa.
Image just for illustration
Ada cerita tentang ulama salaf yang bersedekah dengan cara meletakkan makanan di depan pintu rumah orang miskin di malam hari, supaya tidak ada yang tahu siapa yang memberi. Atau ada yang pura-pura mengantarkan barang ke rumah temannya, padahal di dalamnya ada uang sedekah. Ini menunjukkan kesungguhan mereka menjaga keikhlasan.
Tentu ada amal yang memang harus terlihat (shalat jamaah, haji, zakat fitrah yang dibayarkan ke amil). Untuk amal-amal ini, fokuslah pada niat yang kuat dan sadari bahwa Anda melakukannya karena perintah Allah, bukan karena ingin dilihat orang.
3. Ingat Bahwa Pengawasan Allah adalah yang Utama¶
Sadari selalu bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar, bahkan apa yang tersembunyi di dalam hati. Pujian manusia itu fana, nggak ada gunanya di akhirat. Yang kekal adalah ridha Allah dan balasan dari-Nya. Fokus pada “audiens” yang sebenarnya, yaitu Allah SWT. Bayangkan Anda sedang “berhadapan” langsung dengan Allah saat beramal. Ini akan membantu memurnikan niat.
4. Perbanyak Doa dan Memohon Pertolongan Allah¶
Riya’ dan sum’ah adalah penyakit hati. Kita butuh pertolongan Allah untuk menyembuhkannya. Perbanyak doa agar diberi keikhlasan dan dilindungi dari riya’ dan sum’ah. Ada doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku ketahui, dan aku memohon ampunan-Mu terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad). Doa ini penting diamalkan, karena kadang riya’ dan sum’ah itu datang tanpa kita sadari.
5. Renungkan Akibat Riya’ dan Sum’ah¶
Memikirkan betapa beratnya konsekuensi riya’ dan sum’ah (amal ditolak, dimurkai Allah, dipermalukan di akhirat) bisa menjadi motivasi kuat untuk menghindarinya. Bandingkan dengan balasan dari Allah bagi orang yang ikhlas: pahala berlipat, diangkat derajatnya di sisi Allah, dan masuk surga. Mana yang lebih kita pilih?
6. Pahami Hakikat Pujian dan Celaan Manusia¶
Pujian manusia nggak akan membuat kita masuk surga, celaan mereka juga nggak akan membuat kita masuk neraka. Semua kembali pada amal dan niat kita di hadapan Allah. Anggap pujian sebagai ujian, apakah hati jadi sombong atau tetap tawadhu’. Anggap celaan sebagai introspeksi, mungkin ada kebaikan yang belum sempurna atau ada dosa yang perlu diampuni. Jangan biarkan hati kita terlalu terpengaruh oleh opini manusia.
7. Perbanyak Istighfar dan Introspeksi Diri¶
Setiap kali muncul bisikan hati ingin pamer atau merasa bangga dengan amal, segera istighfar (memohon ampun) dan perbaiki niat. Lakukan introspeksi diri secara rutin. Tanyakan pada diri sendiri: “Kenapa aku melakukan ini? Apa tujuanku sebenarnya? Apakah ini murni karena Allah?”
Tabel Perbandingan Riya’ vs Sum’ah¶
Agar lebih mudah memahami perbedaannya, lihat tabel berikut:
| Fitnah Hati | Definisi Singkat | Waktu Terjadi | Fokus Utama | Bahaya |
|---|---|---|---|---|
| Riya’ | Melakukan amal agar dilihat & dipuji orang lain | Sebelum dan Saat Beramal | Pandangan Mata Manusia | Amal tidak diterima/rusak, Syirik kecil |
| Sum’ah | Memberitahukan amal agar didengar & dipuji orang lain | Setelah Selesai Beramal | Pendengaran & Omongan Manusia | Amal tidak diterima/rusak, Syirik kecil |
Keduanya berbahaya dan sama-sama termasuk penyakit hati yang harus diwaspadai.
Fakta Menarik Tentang Riya’ dan Sum’ah¶
- Saking halusnya, riya’ dan sum’ah ini kadang disebut sebagai “syirik yang lebih tersembunyi daripada jejak semut hitam di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita”. Ini menunjukkan betapa sulitnya mengenali kehadirannya dalam hati.
- Godaan riya’ dan sum’ah bisa datang bahkan pada orang yang sudah saleh atau banyak beramal. Semakin banyak amal, semakin besar godaan setan untuk merusaknya dengan riya’ atau sum’ah. Ini bukti bahwa keikhlasan itu perjuangan terus-menerus.
- Di zaman sekarang, dengan adanya media sosial, godaan riya’ dan sum’ah semakin merajalela. Memposting foto ibadah, menceritakan kebaikan di status, atau menunjukkan gaya hidup religius bisa jadi pintu masuk sum’ah atau riya’ jika niatnya bukan karena Allah. Berhati-hatilah dalam menggunakan media sosial terkait urusan ibadah pribadi.
Riya’ dan sum’ah adalah pengingat betapa pentingnya fokus pada kualitas hubungan kita dengan Allah, bukan pada pandangan manusia. Amalan sekecil apapun yang ikhlas, lebih bernilai daripada amalan besar yang ternodai riya’ atau sum’ah.
Semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah untuk menjauhi riya’ dan sum’ah, serta dimampukan untuk selalu ikhlas dalam setiap amal kebaikan.
Gimana, sekarang sudah lebih paham kan apa itu riya’ dan sum’ah? Jangan lupa untuk terus bermuhasabah (introspeksi diri) ya. Kalau ada pengalaman atau tips lain terkait ini, yuk berbagi di kolom komentar di bawah!
Posting Komentar