Apa Itu Rhesus Positif? Kenali Artinya Buat Golongan Darahmu

Table of Contents

Hai, pernahkah kamu dengar soal golongan darah A, B, AB, atau O? Pasti pernah, kan? Itu kan yang biasanya tertulis di kartu identitas atau dicatat saat periksa kesehatan. Nah, selain golongan darah utama itu, ada lagi satu faktor penting yang sering disebut ‘faktor Rhesus’ atau ‘Rh’.

Faktor Rhesus ini sebenarnya adalah sejenis protein atau antigen yang ada di permukaan sel darah merah kita. Keberadaan atau ketiadaan protein inilah yang menentukan status Rhesus kita.

Jadi, Apa yang Dimaksud Rhesus Positif?

Nah, sekarang kita sampai ke intinya. Rhesus positif (Rh+) itu artinya sel darah merah kamu punya protein D (salah satu jenis antigen Rhesus yang paling penting) di permukaannya. Ini adalah kondisi yang paling umum lho di banyak populasi dunia. Jadi, kalau kamu Rhesus positif, itu berarti kamu termasuk mayoritas. Gampangannya gini, sel darah merahmu punya “tanda pengenal” protein D.

Image just for illustration
golongan darah rhesus positif

Sekitar 85% orang di dunia punya status Rhesus positif. Angka ini bisa bervariasi sedikit tergantung dari etnis atau populasi tertentu. Jadi, kalau kamu Rh+, itu artinya kamu bawa protein D di sel darah merahmu.

Bagaimana dengan Rhesus Negatif?

Kebalikan dari Rhesus positif, ada yang namanya Rhesus negatif (Rh-). Kalau kamu Rhesus negatif, itu artinya sel darah merahmu tidak punya protein D ini. Ini adalah kondisi yang lebih jarang ditemukan, sekitar 15% dari populasi.

Image just for illustration
golongan darah rhesus negatif

Jadi, perbedaannya itu cuma ada atau tidaknya protein D di sel darah merahmu. Simpel, kan? Tapi, meskipun kelihatannya simpel, perbedaan ini punya implikasi penting dalam beberapa kondisi, terutama soal transfusi darah dan kehamilan.

Kenapa Penting Banget Tahu Status Rhesusmu?

Mungkin kamu berpikir, ah, cuma beda ada atau tidaknya protein, apa bedanya buat saya? Eits, jangan salah! Mengetahui status Rhesusmu itu krusial, ada dua alasan utama kenapa ini penting:

  1. Transfusi Darah: Ini soal memastikan darah yang masuk ke tubuhmu itu cocok.
  2. Kehamilan: Ini penting banget buat perempuan, terutama yang berencana hamil atau sedang hamil.

Mari kita bedah satu per satu.

Rhesus dan Transfusi Darah

Sama seperti golongan darah A, B, AB, dan O yang harus cocok saat transfusi, status Rhesus juga punya peran penting.

Aturannya kira-kira begini:
* Orang dengan Rhesus positif (Rh+) umumnya bisa menerima darah dari donor Rh+ atau Rh-. Sel darah merah mereka punya protein D, jadi saat ketemu protein D dari donor Rh+, tubuhnya “kenal” dan tidak bereaksi. Kalau ketemu darah Rh-, tidak ada protein D yang asing, jadi juga aman.
* Orang dengan Rhesus negatif (Rh-) sebaiknya hanya menerima darah dari donor Rh-. Kenapa? Karena tubuh orang Rh- tidak punya protein D. Jika mereka menerima darah dari donor Rh+, protein D yang ada di darah donor akan dianggap sebagai benda asing oleh sistem kekebalan tubuh orang Rh-.

Image just for illustration
transfusi darah rhesus

Kalau ini terjadi, sistem kekebalan tubuh akan mulai membentuk antibodi melawan protein D. Reaksi ini bisa menyebabkan reaksi transfusi yang serius dan berbahaya, di mana sel darah merah donor dihancurkan oleh antibodi penerima. Nah, makanya pengecekan Rhesus ini wajib dilakukan sebelum transfusi darah untuk menghindari komplikasi ini.

Rhesus dan Kehamilan: Ini yang Paling Krusial

Ini adalah skenario paling umum di mana status Rhesus punya dampak besar, terutama kalau si ibu Rhesus negatif dan pasangannya (ayah si bayi) Rhesus positif.

Image just for illustration
kehamilan rhesus positif negatif

Kenapa begitu? Ingat pelajaran Biologi soal pewarisan sifat? Rhesus positif (Rh+) itu sifat yang dominan lho, sementara Rhesus negatif (Rh-) itu resesif.

Memahami Pewarisan Rhesus

Gen untuk faktor Rhesus punya dua alel utama: D (untuk Rhesus positif) dan d (untuk Rhesus negatif).
* Orang Rh+ bisa punya genotip DD (homozigot dominan) atau Dd (heterozigot).
* Orang Rh- pasti punya genotip dd (homozigot resesif).

Kalau seorang ibu Rh- (genotip dd) hamil dengan ayah Rh+ (bisa DD atau Dd), ada kemungkinan si bayi mewarisi gen D dari ayahnya dan jadi Rh+.

  • Jika ayah genotip DD, anak PASTI genotip Dd (Rh+).
  • Jika ayah genotip Dd, ada kemungkinan 50% anak genotip Dd (Rh+) dan 50% anak genotip dd (Rh-).

Nah, masalah muncul kalau ibu Rh- (dd) mengandung bayi Rh+ (Dd atau DD).

Mekanisme Ketidakcocokan Rhesus (Rh Incompatibility)

Saat ibu Rh- mengandung bayi Rh+, protein D dari sel darah merah bayi kadang-kadang bisa masuk ke dalam aliran darah ibu, terutama saat persalinan, keguguran, atau prosedur medis tertentu selama kehamilan (seperti amniosentesis).

Image just for illustration
mekanisme rhesus incompatibility

Karena tubuh ibu Rh- belum pernah terpapar protein D, sistem kekebalannya akan menganggap protein D dari bayi ini sebagai “penyusup” atau antigen asing. Tubuh ibu kemudian akan memproduksi antibodi anti-D untuk melawan protein D ini. Proses ini disebut sensitisasi.

Biasanya, sensitisasi ini terjadi di akhir kehamilan pertama atau saat persalinan. Jadi, kehamilan pertama dengan bayi Rh+ mungkin tidak terlalu terpengaruh karena antibodi belum banyak terbentuk. Tapi, antibodi anti-D ini akan tetap ada di dalam tubuh ibu.

Masalah muncul di kehamilan berikutnya!

Jika ibu Rh- hamil lagi dengan bayi Rh+, antibodi anti-D yang sudah terbentuk di kehamilan sebelumnya kini sudah siap siaga. Antibodi ini bisa melewati plasenta dan masuk ke aliran darah bayi.

Ketika antibodi anti-D ibu masuk ke tubuh bayi yang Rh+, mereka akan menyerang dan menghancurkan sel darah merah bayi yang punya protein D.

Risiko untuk Bayi: Penyakit Hemolitik pada Bayi Baru Lahir (Hemolytic Disease of the Newborn - HDN)

Penghancuran sel darah merah bayi oleh antibodi ibu ini bisa menyebabkan kondisi serius yang disebut Penyakit Hemolitik pada Bayi Baru Lahir atau Hemolytic Disease of the Newborn (HDN), kadang juga disebut Erythroblastosis Fetalis.

Gejala HDN bisa bervariasi, dari ringan sampai sangat parah:

  • Anemia: Sel darah merah bayi hancur, menyebabkan kurang darah.
  • Jaundice (Kuning): Saat sel darah merah hancur, terbentuk bilirubin dalam jumlah besar. Hati bayi belum cukup matang untuk memproses semua bilirubin ini, sehingga menumpuk dalam darah dan menyebabkan kulit serta mata bayi menguning. Bilirubin tinggi yang tidak diobati bisa menyebabkan kerusakan otak (kernicterus).
  • Pembengkakan (Edema) dan Gagal Jantung: Dalam kasus parah, bayi bisa mengalami pembengkakan tubuh umum (hydrops fetalis) karena anemia parah dan hati serta limpa membesar, yang bisa berujung pada gagal jantung dan kematian janin di dalam kandungan atau segera setelah lahir.

Image just for illustration
risiko rhesus incompatibility pada bayi

Mengerikan, ya? Untungnya, di era modern ini, HDN akibat ketidakcocokan Rhesus sangat bisa dicegah dan diobati.

Pencegahan dan Penanganan Ketidakcocokan Rhesus

Ini kabar baiknya! Ilmu kedokteran sudah punya cara efektif untuk mencegah sensitisasi Rhesus pada ibu Rh-. Pencegahannya adalah dengan memberikan suntikan yang namanya Rho(D) immune globulin, sering dikenal dengan merek RhoGAM.

Image just for illustration
suntikan rhogam

Suntikan RhoGAM ini berisi antibodi anti-D “buatan” (pasif). Ketika disuntikkan ke ibu Rh-, antibodi ini akan “menangkap” atau menghancurkan sel darah merah bayi yang mungkin masuk ke aliran darah ibu sebelum sistem kekebalan tubuh ibu sempat mengenali protein D dan membentuk antibodi sendiri.

Kapan suntikan RhoGAM diberikan?

  • Biasanya diberikan sebagai profilaksis (pencegahan) rutin pada ibu Rh- sekitar minggu ke-28 kehamilan.
  • Diberikan lagi dalam 72 jam setelah persalinan jika bayi yang lahir ternyata Rhesus positif.
  • Juga diberikan setelah kejadian yang berpotensi menyebabkan percampuran darah ibu dan bayi, seperti keguguran, kehamilan ektopik, aborsi, pendarahan vagina selama kehamilan, amniosentesis, atau versi eksternal.

Dengan pemberian RhoGAM yang tepat waktu, risiko sensitisasi Rhesus pada ibu Rh- bisa ditekan drastis, sehingga mencegah HDN pada kehamilan berikutnya.

Kalaupun HDN terjadi (misalnya karena sensitisasi sudah terjadi sebelum mendapatkan RhoGAM), penanganan bisa meliputi transfusi darah pada janin in utero (di dalam kandungan) atau transfusi tukar pada bayi baru lahir untuk mengganti darah bayi yang rusak dengan darah yang cocok. Fototerapi juga diberikan untuk mengurangi kadar bilirubin tinggi.

Ini menunjukkan betapa pentingnya ibu hamil mengetahui status Rhesus dirinya dan pasangannya. Skrining Rhesus adalah bagian dari pemeriksaan kehamilan rutin.

Fakta Menarik Seputar Faktor Rhesus

  • Ditemukan pada Kera Rhesus: Nama “Rhesus” diambil dari jenis kera (Macaca mulatta) yang digunakan dalam penelitian awal oleh Karl Landsteiner dan Alexander Wiener pada tahun 1940. Mereka menemukan antigen yang mirip di sel darah merah kera tersebut dan juga pada manusia.
    Image just for illustration
    kera macaca mulatta
  • Sistem Rhesus Kompleks: Faktor Rhesus bukan cuma soal protein D lho. Sebenarnya ada banyak antigen lain dalam sistem Rhesus (seperti C, c, E, e), tapi antigen D adalah yang paling imunogenik (paling kuat memicu respons kekebalan) dan paling sering menyebabkan masalah klinis, terutama dalam ketidakcocokan Rhesus. Makanya yang paling sering dibicarakan adalah status Rh(D) positif atau negatif.
  • Distribusi Berbeda: Proporsi orang Rh+ dan Rh- bervariasi di berbagai belahan dunia dan kelompok etnis. Di Eropa, proporsi Rh- lebih tinggi (sekitar 15-20%) dibandingkan di Asia atau Afrika (di mana proporsi Rh- bisa di bawah 5%).
  • Bukan Penyakit: Perlu diingat, memiliki Rhesus negatif itu bukan penyakit atau kelainan. Itu hanyalah salah satu variasi genetik pada manusia. Masalah hanya timbul ketika terjadi interaksi darah antara Rh+ dan Rh- dalam kondisi tertentu (transfusi atau kehamilan) dan tubuh yang Rh- belum pernah terpapar protein D sebelumnya.

Bagaimana Cara Mengetahui Status Rhesus Kamu?

Sangat mudah! Kamu bisa mengetahui status Rhesusmu melalui tes darah sederhana yang biasa dilakukan untuk menentukan golongan darah ABO. Saat kamu mendonorkan darah, melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, atau skrining antenatal (pemeriksaan kehamilan), status Rhesusmu biasanya akan ikut ditentukan.

Image just for illustration
tes golongan darah rhesus

Hasil tes darah ini akan menunjukkan golongan darahmu (misalnya A+, B-, O+, AB-) di mana tanda ‘+’ atau ‘-’ setelah huruf menunjukkan status Rhesus positif atau negatif.

Tips Penting:
* Pastikan Kamu Tahu: Begitu tahu status Rhesusmu, catat dan ingat baik-baik. Sampaikan informasi ini kepada dokter atau tenaga medis setiap kali kamu memerlukan perawatan medis, terutama sebelum transfusi darah atau jika kamu perempuan dan berencana hamil/sudah hamil.
* Untuk Perempuan: Jika kamu Rhesus negatif, penting sekali untuk mendiskusikan ini dengan dokter kandunganmu. Dokter akan melakukan pemeriksaan darah pada pasanganmu (ayah si bayi) untuk mengetahui status Rhesus-nya. Jika ayah Rh+, dokter akan memantau kehamilanmu dengan lebih cermat dan merencanakan pemberian suntikan RhoGAM sesuai jadwal.
* Jangan Panik: Jika kamu Rhesus negatif, ini bukan berarti kamu tidak bisa hamil atau akan mengalami masalah. Dengan penanganan medis yang tepat dan suntikan RhoGAM, kehamilan bisa berjalan lancar dan bayi bisa lahir sehat.

Kesimpulan: Rhesus Positif Itu Normal dan Umum!

Intinya, Rhesus positif itu adalah kondisi normal di mana sel darah merahmu punya protein D. Ini adalah status Rhesus yang paling umum di dunia. Perbedaan status Rhesus (positif vs negatif) menjadi sangat penting dalam konteks transfusi darah dan, yang paling utama, dalam kehamilan untuk mencegah komplikasi pada bayi.

Mengetahui status Rhesus diri sendiri adalah langkah proaktif dalam menjaga kesehatan, terutama jika ada kebutuhan transfusi darah mendesak atau jika kamu adalah seorang perempuan yang berencana membangun keluarga. Jangan ragu bertanya pada dokter atau petugas kesehatan untuk mengetahui status Rhesusmu!

Sekarang kamu sudah lebih paham kan soal Rhesus positif? Semoga informasi ini bermanfaat ya!

Nah, gimana menurutmu? Punya pengalaman atau pertanyaan seputar Rhesus positif atau negatif? Yuk, tinggalkan komentarmu di bawah! Kita bisa diskusi bareng.

Posting Komentar