Apa yang Dimaksud 'Xi'? Ini Dia Sosok Penting dari China

Table of Contents

Saat kita mendengar atau membaca nama ‘Xi’, kemungkinan besar yang dimaksud adalah Xi Jinping. Beliau adalah sosok yang sangat penting di kancah politik global saat ini. Sebagai pemimpin tertinggi Republik Rakyat Tiongkok (RRT), pengaruhnya terasa tidak hanya di negaranya, tapi juga di seluruh dunia. Memahami siapa Xi Jinping berarti memahami arah masa depan Tiongkok dan dampaknya bagi kita semua.

Jadi, mari kita telusuri lebih dalam siapa sebenarnya Xi Jinping ini dan apa yang membuatnya begitu signifikan. Artikel ini akan membahas perjalanannya, kebijakan utamanya, dan bagaimana kepemimpinannya membentuk Tiongkok modern. Siap? Yuk, kita mulai!

Siapa Sebenarnya Xi Jinping Ini?

Xi Jinping lahir pada 15 Juni 1953 di Beijing. Beliau adalah putra dari Xi Zhongxun, seorang revolusioner komunis veteran dan mantan Wakil Perdana Menteri Tiongkok. Karena latar belakang ayahnya ini, Xi Jinping sering disebut sebagai salah satu “princeling”, yaitu anak-anak dari para petinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) generasi pertama. Latar belakang keluarga ini memberinya koneksi, tetapi juga tantangan, terutama saat Revolusi Kebudayaan.

Selama Revolusi Kebudayaan (1966-1976), ayahnya difitnah dan diasingkan. Xi Jinping muda juga dikirim ke pedesaan, tepatnya ke desa Liangjiahe di Provinsi Shaanxi. Di sana, dia menghabiskan beberapa tahun hidup dalam kondisi yang sulit, bekerja keras sebagai petani. Pengalaman ini disebut-sebut sangat membentuk pandangan hidupnya tentang rakyat biasa dan tantangan yang mereka hadapi. Setelah Revolusi Kebudayaan mereda, dia berhasil masuk Universitas Tsinghua, salah satu universitas paling bergengsi di Tiongkok, tempat dia belajar teknik kimia.

Xi Jinping
Image just for illustration

Pengalaman pahit di masa muda memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika politik dan sosial Tiongkok. Pendidikan tinggi memberinya fondasi intelektual. Kombinasi ini menjadi bekal penting bagi perjalanan karir politiknya yang panjang dan bertahap menuju puncak kekuasaan.

Perjalanan Karir Politik Xi Jinping

Karir politik Xi Jinping dimulai dari tingkat lokal. Setelah lulus kuliah, dia sempat bekerja di militer sebagai sekretaris untuk Geng Biao, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan. Ini memberinya wawasan awal tentang struktur militer dan keamanan negara. Namun, dia kemudian memilih jalur karir di pemerintahan sipil.

Dia memulai dari posisi di tingkat provinsi, seperti di Provinsi Hebei. Kemudian, dia bertugas di Provinsi Fujian pada tahun 1985. Di Fujian, yang merupakan provinsi pesisir dengan banyak investasi asing dan kontak dengan Taiwan, Xi menghabiskan 17 tahun. Pengalaman di Fujian memberinya pemahaman tentang ekonomi pasar dan hubungan internasional. Pada tahun 2002, dia dipindahkan ke Provinsi Zhejiang, provinsi lain yang makmur dan berorientasi ekspor. Di Zhejiang, dia menjabat sebagai Sekretaris Partai Provinsi. Kinerjanya di sini dianggap sukses, dengan fokus pada pengembangan ekonomi dan tata kelola yang baik.

Puncak karir di tingkat provinsi adalah ketika dia menjabat sebagai Sekretaris Partai di Shanghai untuk waktu yang singkat pada tahun 2007. Shanghai adalah pusat ekonomi dan finansial Tiongkok, posisi ini menempatkannya di garis depan panggung nasional. Pengalaman bertahun-tahun di berbagai provinsi dengan karakteristik berbeda memberinya pemahaman komprehensif tentang keragaman Tiongkok.

Menjadi Pemimpin Tertinggi

Kinerja dan koneksinya yang kuat membuatnya terus naik di struktur Partai Komunis Tiongkok. Pada Kongres Partai ke-17 tahun 2007, Xi Jinping masuk ke dalam Komite Tetap Politbiro, badan pembuat keputusan tertinggi di Tiongkok. Masuknya dia bersama dengan Li Keqiang, dianggap sebagai persiapan suksesi untuk menggantikan Presiden Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao. Xi ditunjuk sebagai Wakil Presiden RRT pada tahun 2008, mengonfirmasi posisinya sebagai penerus yang paling mungkin.

Pada November 2012, di Kongres Partai ke-18, Xi Jinping secara resmi mengambil alih jabatan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok, posisi paling kuat di negara itu. Beberapa bulan kemudian, pada Maret 2013, dia juga menjadi Presiden Republik Rakyat Tiongkok dan Ketua Komisi Militer Pusat. Dengan memegang ketiga posisi kunci ini – pimpinan partai, pimpinan negara, dan pimpinan militer – Xi Jinping mengonsolidasikan kekuasaan yang luar biasa di tangannya. Ini menandai dimulainya era kepemimpinan Xi.

Ketika pertama kali menjabat, Xi mewarisi Tiongkok yang menghadapi tantangan besar: korupsi yang merajalela, kesenjangan sosial yang melebar, polusi lingkungan yang parah, dan kebutuhan untuk transisi ekonomi dari manufaktur murah ke inovasi berbasis teknologi. Xi dengan cepat meluncurkan serangkaian kebijakan untuk mengatasi masalah-masalah ini, yang paling menonjol adalah kampanye anti-korupsi.

Kebijakan dan Visi Utama Xi Jinping

Sejak menjabat, Xi Jinping telah meluncurkan berbagai inisiatif dan kebijakan yang ambisius, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Visi besarnya sering dirangkum dalam frasa “Impian Tiongkok” (Zhongguo Meng), yang mencakup peremajaan besar bangsa Tiongkok, kemakmuran bersama, pembangunan masyarakat sosialis modern yang makmur, dan peran utama Tiongkok di panggung dunia. Berikut beberapa kebijakan utamanya:

1. Kampanye Anti-Korupsi

Ini adalah kebijakan paling awal dan paling tegas yang diluncurkan Xi. Dia berjanji untuk menindak “harimau” (pejabat tinggi) dan “lalat” (pejabat rendah). Kampanye ini telah menghukum jutaan kader partai di berbagai tingkatan, termasuk beberapa mantan anggota Komite Tetap Politbiro seperti Zhou Yongkang. Tujuan kampanye ini adalah membersihkan partai, memulihkan legitimasi publik yang terkikis oleh korupsi, dan juga, menurut banyak pengamat, menyingkirkan lawan-lawan politik. Kampanye ini sangat populer di kalangan masyarakat Tiongkok.

2. Belt and Road Initiative (BRI)

Dikenal juga sebagai “Satu Sabuk, Satu Jalan”, BRI adalah proyek infrastruktur global raksasa yang diluncurkan Xi pada tahun 2013. Tujuannya adalah membangun konektivitas darat dan laut yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tengah, Eropa, Afrika, dan sekitarnya. Ini melibatkan investasi besar-besaran dalam pembangunan pelabuhan, jalan tol, kereta api, bandara, dan pembangkit listrik di berbagai negara.

Belt and Road Initiative map
Image just for illustration

BRI dilihat sebagai cara Tiongkok untuk meningkatkan perdagangan, memperluas pengaruh ekonomi dan politiknya, menciptakan pasar baru untuk surplus industrinya, dan mempromosikan konektivitas global. Namun, proyek ini juga menuai kritik terkait keberlanjutan utang bagi negara-negara peserta, transparansi, dan potensi dampak geopolitik.

3. “Impian Tiongkok” dan Peremajaan Bangsa

Visi “Impian Tiongkok” adalah inti dari narasi Xi Jinping. Ini adalah seruan untuk mencapai “peremajaan besar bangsa Tiongkok” (Zhōnghuá Mínzú Wěidà Fùxīng). Visi ini mencakup beberapa aspek: mencapai masyarakat yang cukup makmur pada tahun 2021 (peringatan 100 tahun PKT) dan menjadi negara sosialis modern yang makmur, kuat, beradab, harmonis, dan indah pada tahun 2049 (peringatan 100 tahun RRT). Ini adalah seruan patriotik yang kuat, menghubungkan masa lalu kejayaan Tiongkok dengan ambisi masa depan.

4. Modernisasi Militer

Di bawah kepemimpinan Xi, Tiongkok telah melakukan modernisasi besar-besaran terhadap Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Anggaran pertahanan meningkat signifikan, dan fokusnya adalah membangun militer yang mampu beroperasi jauh dari pantai Tiongkok dan mampu menghadapi tantangan modern, termasuk di dunia maya dan luar angkasa. Tujuan ini adalah melindungi kepentingan Tiongkok yang semakin meluas dan mendukung klaim teritorialnya, terutama di Laut Tiongkok Selatan dan terkait Taiwan.

5. Kebijakan Domestik Lainnya

  • Penguatan Peran Partai: Xi sangat menekankan peran sentral Partai Komunis Tiongkok dalam semua aspek kehidupan, dari ekonomi hingga budaya dan pendidikan. Slogan “Partai, Pemerintah, Militer, Rakyat, Pendidikan; Timur, Barat, Selatan, Utara, Tengah; Partai memimpin segalanya” menjadi kenyataan di era Xi.
  • Sistem Kredit Sosial: Pengembangan sistem yang mengumpulkan data tentang warga dan perusahaan untuk memberikan “skor” berdasarkan perilaku mereka. Tujuannya adalah mendorong perilaku yang dianggap “baik” oleh negara, tetapi menimbulkan kekhawatiran serius tentang privasi dan kontrol sosial.
  • Penindasan di Xinjiang: Kebijakan keras terhadap minoritas Uighur dan etnis Muslim lainnya di Xinjiang, termasuk penahanan massal di kamp-kamp yang disebut “pusat pelatihan kejuruan” oleh pemerintah, tetapi dikritik sebagai bentuk penindasan budaya dan agama oleh dunia internasional.
  • Pengurangan Kemiskinan: Kampanye besar-besaran untuk memberantas kemiskinan ekstrem, yang diklaim pemerintah Tiongkok berhasil dicapai pada tahun 2020.
  • Penguatan Pengawasan Internet: Kontrol ketat terhadap informasi online, sering disebut sebagai “Tembok Api Besar” (Great Firewall), diperkuat di bawah Xi.

6. Kebijakan Luar Negeri yang Lebih Assertif

Di bawah Xi, Tiongkok telah mengambil sikap yang lebih tegas dan percaya diri di panggung global. Ini terlihat dari:

  • Klaim di Laut Tiongkok Selatan: Tiongkok membangun dan memiliterisasi pulau-pulau buatan di wilayah yang disengketakan.
  • Hubungan dengan AS: Hubungan yang semakin tegang, ditandai dengan perang dagang, persaingan teknologi, dan perbedaan pandangan tentang hak asasi manusia dan Taiwan.
  • Diplomasi “Warrior Wolf”: Gaya diplomasi yang lebih agresif dan konfrontatif oleh para diplomat Tiongkok, terutama di media sosial.
  • Meningkatkan Peran di Organisasi Internasional: Tiongkok berusaha meningkatkan pengaruhnya di PBB dan organisasi multilateral lainnya.

Tabel Ringkasan Beberapa Kebijakan Utama Xi Jinping:

Kebijakan Deskripsi Singkat Tujuan Utama
Kampanye Anti-Korupsi Menindak pejabat korup di semua tingkatan. Membersihkan partai, memulihkan kepercayaan publik, konsolidasi kekuasaan.
Belt and Road Initiative Proyek infrastruktur global besar-besaran. Meningkatkan konektivitas, memperluas perdagangan, meningkatkan pengaruh.
“Impian Tiongkok” Visi peremajaan bangsa, kemakmuran bersama, Tiongkok yang kuat dan modern. Menyatukan rakyat di balik tujuan nasional, mencapai posisi global terkemuka.
Modernisasi Militer Peningkatan signifikan kekuatan dan kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat. Melindungi kepentingan, mendukung klaim teritorial, proyeksi kekuatan.
Penguatan Peran Partai Menekankan kendali Partai Komunis Tiongkok atas semua aspek negara dan masyarakat. Memastikan stabilitas dan kepemimpinan PKT yang tak terbantahkan.

Era Xi Jinping: Konsolidasi Kekuasaan

Salah satu aspek paling menonjol dari kepemimpinan Xi Jinping adalah konsolidasi kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak era Deng Xiaoping, bahkan mungkin Mao Zedong. Dia telah membongkar norma-norma suksesi kolektif yang dibangun setelah era Mao. Momen paling signifikan adalah pada tahun 2018, ketika Kongres Rakyat Nasional (parlemen Tiongkok) menghapus batas masa jabatan Presiden. Sebelumnya, Presiden hanya bisa menjabat maksimal dua periode lima tahun. Penghapusan ini secara efektif memungkinkan Xi Jinping untuk berkuasa seumur hidup, atau setidaknya selama dia memegang posisi Sekretaris Jenderal Partai.

Pengaruh ideologisnya juga ditekankan. “Pemikiran Xi Jinping tentang Sosialisme dengan Karakteristik Tiongkok untuk Era Baru” telah dimasukkan ke dalam Konstitusi Partai Komunis Tiongkok dan Konstitusi negara. Ini menempatkan pemikirannya pada tingkat yang sama dengan Mao Zedong dan Deng Xiaoping, menunjukkan statusnya yang ditinggikan.

Konsolidasi kekuasaan ini memberinya kemampuan untuk mendorong agenda reformasinya yang ambisius, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang kurangnya check and balance, risiko pengambilan keputusan yang terpusat, dan potensi penindasan terhadap perbedaan pendapat. Kritikus berpendapat bahwa penguatan kontrol partai dan negara mengikis ruang bagi masyarakat sipil dan kebebasan individu.

Emblem of the Communist Party of China
Image just for illustration

Di sisi lain, para pendukungnya berargumen bahwa kepemimpinan yang kuat dan terpusat diperlukan untuk mengatasi tantangan kompleks yang dihadapi Tiongkok dan mewujudkan “Impian Tiongkok”. Mereka menunjuk pada keberhasilan dalam pemberantasan korupsi (setidaknya secara eksternal), pengurangan kemiskinan, dan peningkatan status Tiongkok di dunia sebagai bukti efektivitas kepemimpinan Xi.

Dampak Kepemimpinan Xi Jinping

Dampak dari era Xi Jinping sangat luas dan mendalam, baik di dalam negeri maupun di kancah internasional.

Di dalam negeri, dia telah berhasil memperkuat cengkeraman Partai Komunis pada semua aspek kehidupan. Ekonomi Tiongkok terus tumbuh, meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat dan menghadapi tantangan struktural. Kampanye anti-korupsi telah mengubah budaya politik di Tiongkok, meskipun beberapa melihatnya juga sebagai alat politik. Kontrol sosial meningkat, terutama melalui teknologi, sementara ruang untuk perbedaan pendapat dan kritik semakin terbatas.

Di kancah internasional, Tiongkok di bawah Xi telah menjadi pemain yang jauh lebih aktif dan assertif. BRI telah mengubah lanskap infrastruktur dan geopolitik di banyak wilayah. Tiongkok semakin bersuara di forum internasional dan menantang dominasi Barat, terutama Amerika Serikat. Kebangkitan Tiongkok di bawah Xi telah memicu persaingan strategis besar-besaran, mempengaruhi hubungan antara negara-negara di seluruh dunia. Tiongkok kini dipandang sebagai kekuatan global yang harus diperhitungkan, dengan kepentingan dan ambisi yang jelas.

Kepemimpinan Xi Jinping juga menimbulkan perdebatan sengit di kalangan para ahli. Sebagian melihatnya sebagai pemimpin kuat yang dibutuhkan untuk membawa Tiongkok ke masa depan yang makmur dan kuat, mengembalikan Tiongkok ke tempat yang seharusnya di dunia. Sebagian lain melihatnya sebagai otoriter yang mengancam kebebasan dan stabilitas regional serta global, serta memperburuk masalah hak asasi manusia di negaranya. Pandangan terhadap Xi sangat bergantung pada sudut pandang dan nilai-nilai seseorang.

Fakta Menarik tentang Xi Jinping

  • Latar Belakang “Princeling”: Meskipun ayahnya adalah petinggi partai, Xi mengalami kesulitan di masa muda karena ayahnya difitnah selama Revolusi Kebudayaan. Pengalaman ini memberikan perspektif unik kepadanya.
  • Istri Seorang Bintang: Xi Jinping menikah dengan Peng Liyuan, seorang penyanyi folk yang sangat terkenal di Tiongkok, bahkan lebih terkenal dari Xi sendiri sebelum dia naik ke posisi puncak. Peng Liyuan kini aktif sebagai Duta Niat Baik UNESCO untuk Promosi Pendidikan Anak Perempuan dan Perempuan.
  • Pengalaman di Pedesaan: Tujuh tahun yang dihabiskan di desa miskin Liangjiahe dianggap sebagai periode penting yang membentuk karakternya dan memberinya pemahaman langsung tentang kehidupan rakyat biasa.
  • Penggemar Budaya Pop? Konon, Xi Jinping pernah menyatakan kekagumannya pada beberapa film Hollywood, seperti “The Godfather” dan acara televisi Amerika. Namun, ini adalah anekdot yang sulit dikonfirmasi.
  • Citra Publik yang Dikendalikan Ketat: Pemerintah Tiongkok sangat hati-hati dalam mengelola citra Xi Jinping. Ada upaya untuk menggambarkannya sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, meskipun kenyataannya dia adalah sosok yang sangat dijaga.

Kesimpulan

Jadi, ketika kita membahas “apa yang dimaksud Xi”, hampir pasti kita merujuk pada Xi Jinping, pemimpin tertinggi Republik Rakyat Tiongkok. Beliau adalah sosok kompleks dengan latar belakang unik yang telah meniti karir politik panjang untuk mencapai puncak kekuasaan. Di bawah kepemimpinannya, Tiongkok telah mengalami transformasi besar, baik dalam hal politik domestik dengan konsolidasi kekuasaan yang kuat dan kampanye anti-korupsi, maupun dalam hal peran global yang semakin assertif melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative.

Visi “Impian Tiongkok”nya menggarisbawahi ambisi Tiongkok untuk menjadi negara yang makmur, kuat, dan memiliki peran sentral di dunia. Era Xi Jinping ditandai dengan penguatan kontrol Partai Komunis Tiongkok, modernisasi militer, dan kebijakan luar negeri yang lebih tegas. Dampaknya terasa di setiap sudut dunia, menjadikan pemahaman tentang Xi Jinping penting bagi siapa pun yang ingin memahami dinamika politik dan ekonomi global saat ini. Dia adalah arsitek Tiongkok masa depan, dan keputusannya akan terus membentuk abad ke-21.

Gimana, sekarang sudah lebih jelas kan apa yang dimaksud dengan ‘Xi’? Sosoknya memang menarik dan kompleks.

Menurut kalian, kebijakan mana dari Xi Jinping yang paling berdampak? Atau ada fakta menarik lain yang kalian tahu tentang beliau? Yuk, bagikan pendapat dan pengetahuan kalian di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar