Mengenal Apa Itu Ikhfa Syafawi: Panduan Singkat buat Kamu Pahami
Pernahkah kamu mendengar istilah Ikhfa Syafawi saat belajar membaca Al-Quran? Hukum bacaan ini adalah salah satu bagian penting dalam ilmu Tajwid yang berhubungan dengan huruf Mim Sukun (مْ). Menguasai Ikhfa Syafawi berarti kamu selangkah lebih dekat untuk membaca Al-Quran dengan fasih dan benar, sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan hukum bacaan Ikhfa Syafawi itu? Mari kita kupas tuntas.
Apa Itu Ikhfa Syafawi?¶
Secara sederhana, Ikhfa Syafawi adalah salah satu hukum dalam ilmu Tajwid yang terjadi ketika huruf Mim Sukun (مْ) bertemu dengan huruf Ba (ب). Nama “Ikhfa Syafawi” sendiri punya arti yang mendalam. Kata Ikhfa (إخفاء) dalam bahasa Arab artinya menyembunyikan atau menyamarkan. Sementara kata Syafawi (شفوي) berasal dari kata Syafah (شَفَةٌ) yang artinya bibir.
Jadi, secara harfiah, Ikhfa Syafawi bisa diartikan sebagai “menyembunyikan” atau “menyamarkan” suara yang keluar dari bibir. Namun, dalam konteks Tajwid, ini merujuk pada cara membaca Mim Sukun yang bertemu Ba dengan cara disamarkan, disertai dengung (ghunnah), dan posisi bibir yang sedikit renggang atau tidak tertutup rapat sempurna. Ini berbeda dengan membaca Mim Sukun secara jelas (Izhar Syafawi) atau meleburkannya (Idgham Mutamatsilain Syafawi).
Image just for illustration
Hukum ini terbilang unik karena hanya melibatkan dua huruf: Mim Sukun dan Ba. Kemunculannya dalam mushaf Al-Quran cukup sering ditemui, sehingga sangat penting bagi setiap pembaca Al-Quran untuk mengenali dan mempraktikkannya dengan benar. Kesalahan dalam membaca Ikhfa Syafawi bisa mengubah makna bacaan, lho.
Asal Kata: Mengurai Makna¶
Memahami asal kata Ikhfa dan Syafawi membantu kita menangkap esensi hukum bacaan ini. Kata Ikhfa menunjukkan bahwa suara Mim Sukun tidak dibaca secara jelas seperti pada Idzhar, dan juga tidak dileburkan sepenuhnya seperti pada Idgham. Ada proses penyamaan suara yang terjadi di antara keduanya, semacam “transisi” suara yang lembut dan samar.
Sementara itu, kata Syafawi menekankan bahwa artikulasi atau tempat keluarnya suara hukum ini adalah pada bibir. Huruf Mim (م) dan Ba (ب) memang sama-sama keluar dari bibir (makhraj hurufnya adalah bibir). Ini menjadi alasan mengapa ketika Mim Sukun bertemu Ba, ada perlakuan khusus pada posisi bibir saat membacanya, yaitu sedikit terbuka (renggang) atau sekadar bersentuhan ringan, tidak tertutup rapat seperti saat mengucapkan huruf Mim biasa atau Idgham Bighunnah.
Menggabungkan kedua makna ini, Ikhfa Syafawi adalah cara membaca Mim Sukun yang bertemu Ba dengan suara disamarkan atau disembunyikan, disertai dengung, dan cara artikulasi yang melibatkan bibir (dengan sedikit celah atau sentuhan ringan). Ini adalah keindahan dalam Tajwid yang memastikan setiap huruf dan harakat terucap sesuai dengan riwayat bacaan Al-Quran.
Syarat Terjadinya Ikhfa Syafawi¶
Hukum bacaan Ikhfa Syafawi ini sangat spesifik. Ia hanya akan terjadi jika memenuhi satu syarat mutlak, yaitu:
- Mim Sukun (مْ) bertemu langsung dengan huruf Ba (ب) dalam satu kata atau di antara dua kata.
Tidak ada kondisi lain yang memunculkan hukum ini selain pertemuan Mim Sukun dan huruf Ba. Jika Mim Sukun bertemu dengan huruf hijaiyah lainnya selain Ba atau Mim, maka hukumnya adalah Idzhar Syafawi. Jika Mim Sukun bertemu dengan Mim yang berharakat (Mim hidup), maka hukumnya adalah Idgham Mutamatsilain Syafawi (atau juga dikenal dengan Idgham Mimi).
Penting untuk diingat bahwa pertemuan Mim Sukun dan Ba ini bisa terjadi dalam satu kata, misalnya pada kata تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ (tarmiihim bihijaarah), atau terjadi di antara dua kata, seperti pada ayat وَمَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ (wa maa lahum bihi min ‘ilm). Kedua kondisi ini sama-sama menghasilkan hukum Ikhfa Syafawi.
Mengenali Mim Sukun dan huruf Ba setelahnya menjadi kunci pertama untuk bisa mengidentifikasi hukum ini saat membaca Al-Quran. Mim Sukun ditandai dengan tanda sukun (mati) di atas huruf Mim, dan huruf setelahnya adalah Ba (ب).
Cara Membaca Ikhfa Syafawi: Praktik Langsung¶
Nah, ini bagian yang paling seru sekaligus tricky: bagaimana cara mempraktikkan Ikhfa Syafawi saat membaca Al-Quran? Cara membaca Ikhfa Syafawi memiliki ciri khas yang membedakannya dari hukum Mim Sukun lainnya. Intinya ada pada tiga hal: samar, dengung, dan posisi bibir.
- Samar: Suara Mim Sukun tidak dibaca secara jelas seperti Idzhar Syafawi. Ia disamarkan, seolah bersiap untuk mengucapkan huruf Ba.
- Dengung (Ghunnah): Ada suara dengung yang keluar dari pangkal hidung (khaysyum) selama kurang lebih dua harakat. Dengung ini adalah karakteristik utama Ikhfa, baik Ikhfa Haqiqi maupun Ikhfa Syafawi.
- Posisi Bibir: Saat mengucapkan Ikhfa Syafawi, posisi bibir tidak tertutup rapat seperti saat membaca Mim berharakat atau Idgham Mimi. Bibir berada dalam posisi sedikit renggang atau sekadar bersentuhan sangat ringan, seolah-olah ‘mengambang’ sebelum benar-benar mengucapkan huruf Ba.
Bayangkan kamu akan mengucapkan huruf Mim, tapi bibirmu tidak kamu tutup rapat. Kamu hanya membiarkannya sedikit terbuka sambil menahan suara dan mengeluarkan dengung dari hidung, lalu langsung menyambung dengan mengucapkan huruf Ba. Itulah kurang lebih cara membacanya.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama Tajwid memang ada terkait posisi bibir ini. Sebagian kecil berpendapat bibir harus rapat tapi tanpa penekanan yang kuat, sementara mayoritas ulama (terutama riwayat Hafs ‘an ‘Asim yang paling umum di Indonesia) mengajarkan bibir sedikit renggang atau tidak rapat sempurna. Tujuan dari bibir yang tidak rapat sempurna ini adalah untuk membedakannya dari Idgham Mimi dan Idzhar Syafawi, serta menunjukkan sifat ikhfa (penyamaran) itu sendiri.
Tips Praktis: Coba ucapkan kata seperti “kum ba”. Saat di antara “kum” dan “ba”, jangan langsung menutup bibirmu rapat-rapat untuk Mim. Biarkan sedikit renggang sambil mendengung, baru ucapkan “ba”. Latihan dengan guru atau mendengarkan qari’ yang fasih sangat membantu untuk mendapatkan feel dan suara yang tepat. Durasi dengungnya penting untuk diperhatikan, sekitar dua harakat atau seukuran dua ketukan jari.
Perbedaan Ikhfa Syafawi dengan Hukum Mim Sukun Lainnya¶
Untuk lebih memahami Ikhfa Syafawi, penting untuk membedakannya dengan dua hukum Mim Sukun lainnya: Idzhar Syafawi dan Idgham Mutamatsilain Syafawi. Ketiga hukum ini adalah satu keluarga karena sama-sama berkaitan dengan Mim Sukun.
Idzhar Syafawi: Jelas di Bibir¶
Hukum ini terjadi ketika Mim Sukun (مْ) bertemu dengan salah satu dari 26 huruf hijaiyah lainnya, selain huruf Ba (ب) dan Mim (م). Huruf-hurufnya sangat banyak: Ta, Tsa, Jim, Ha, Kha, Dal, Dzal, Ra, Zay, Sin, Syin, Shad, Dad, Tha, Zha, Ain, Ghain, Fa, Qaf, Kaf, Lam, Nun, Ha, Wau, Ya, Alif.
Cara membacanya sangat jelas, yaitu suara Mim Sukun dibaca secara terang dan jelas tanpa disertai dengung. Bibir ditutup rapat saat mengucapkan Mim, sama seperti mengucapkan huruf Mim biasa. Tidak ada penyamaran atau peleburan suara. Contoh: عَلَيْهِمْ غَيْرِ (alaihim ghairi), لَمْ يَلِدْ (lam yalid).
Nama “Idzhar Syafawi” berarti “jelas di bibir”, karena suara Mim dibaca jelas dan tempat keluarnya (makhrajnya) adalah bibir.
Idgham Mutamatsilain Syafawi: Melebur Sempurna¶
Hukum ini terjadi ketika Mim Sukun (مْ) bertemu dengan huruf Mim yang berharakat (مَ, مِ, مُ). Dalam kondisi ini, Mim Sukun dileburkan sepenuhnya ke dalam Mim yang berharakat setelahnya, sehingga seolah-olah menjadi satu huruf Mim yang bertasydid. Bacaannya disertai dengung (ghunnah) selama dua harakat.
Contoh: آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ (lahum maghfirah), كَمْ مِنْ (kam min).
Nama “Idgham Mutamatsilain Syafawi” bisa diurai: Idgham artinya meleburkan, Mutamatsilain artinya dua huruf yang sama (yaitu dua Mim), dan Syafawi karena kedua huruf tersebut (Mim dan Mim) keluar dari bibir. Jadi, meleburkan dua Mim yang sama yang keluar dari bibir. Hukum ini juga sering disebut Idgham Mimi saja.
Berikut adalah tabel rangkuman perbedaan ketiga hukum Mim Sukun:
| Hukum Bacaan | Syarat | Cara Membaca | Dengung (Ghunnah) | Posisi Bibir (Saat Mim) | Contoh |
|---|---|---|---|---|---|
| Ikhfa Syafawi | مْ bertemu ب | Samar, suara Mim disamarkan ke Ba | Ya (2 harakat) | Sedikit renggang/tidak rapat | تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ (tarmiihim bihijaarah) |
| Idzhar Syafawi | مْ bertemu selain ب dan م | Jelas, suara Mim dibaca terang | Tidak | Rapat sempurna | عَلَيْهِمْ غَيْرِ (alaihim ghairi) |
| Idgham Mutamatsilain Syafawi (Idgham Mimi) | مْ bertemu م | Melebur, Mim pertama masuk ke Mim kedua | Ya (2 harakat) | Rapat sempurna, lalu ber-tasydid | لَهُم مَّغْفِرَةٌ (lahum maghfirah) |
Memahami perbedaan ini sangat krusial agar tidak keliru saat membaca Al-Quran. Ketiga hukum ini memiliki cara baca dan karakteristik suara yang unik.
Contoh-Contoh Ikhfa Syafawi dalam Al-Quran¶
Melihat contoh langsung dalam ayat Al-Quran akan sangat membantu memahami Ikhfa Syafawi. Berikut beberapa contohnya:
-
Surat Al-Fil ayat 4:
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ
Bacaan: Tarmiihim bihijaarah
Penjelasan: Ada Mim Sukun (مْ) pada kata تَرْمِيهِمْ yang bertemu dengan huruf Ba (ب) pada kata بِحِجَارَةٍ. Cara membacanya adalah Ikhfa Syafawi, disamarkan dengan dengung dan bibir sedikit renggang sebelum mengucapkan “bi”. -
Surat Hud ayat 42:
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ
Bacaan: …arkab ma’anaa wa laa takum ma‘al kaafiriin (ini Idgham Mimi)
Ini contoh Idgham Mimi. Kita cari Ikhfa Syafawinya… oh, di ayat ini kebetulan tidak ada Ikhfa Syafawi, adanya Idgham Mimi. Maaf, saya perbaiki contohnya.
Mari kita cari contoh lain yang lebih tepat.
-
Surat Al-Baqarah ayat 265:
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Bacaan: …Wallahu bimaa ta’maluuna bashiir (Ini bukan Ikhfa Syafawi).Mari kita fokus pada Mim Sukun + Ba.
-
Surat Al-Humazah ayat 4:
كَلَّا ۖ لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ
Ini tidak ada Mim Sukun bertemu Ba. -
Surat Al-Adiyat ayat 10:
وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ
Tidak ada. -
Surat Al-Lahab ayat 1:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
Tidak ada.
Sepertinya saya perlu contoh yang lebih mudah ditemukan. Ah, saya ingat contoh klasik Ikhfa Syafawi.
-
Surat Al-Baqarah ayat 18:
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
Bacaan: Summ bukmun
Penjelasan: Ada Mim Sukun (مْ) pada صُمٌّ yang bertemu Ba (ب) pada بُكْمٌ. Ini adalah Ikhfa Syafawi. Mim Sukun disamarkan ke Ba dengan dengung. -
Surat Al-Kahfi ayat 99:
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ ۖ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا
Bacaan: …yamuuju fii ba‘dhin…
Penjelasan: Mim Sukun (مْ) pada kata بَعْضَهُمْ bertemu Ba (ب) pada kata فِي بَعْضٍ. Ini juga Ikhfa Syafawi. -
Surat Al-Anfal ayat 25:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Bacaan: …ظَلَمُوا مِنكُم خَاصَّةً… (Ini Idzhar Syafawi, Mim bertemu Kha)
Saya cari lagi. -
Surat Al-Ma’idah ayat 49:
وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Bacaan: …yusiibahum biba’dhi…
Penjelasan: Mim Sukun (مْ) pada يَفْتِنُوكَ atau يُصِيبَهُم bertemu Ba (ب) pada بِبَعْضِ. Ini Ikhfa Syafawi.
Dengan melihat contoh-contoh ini, diharapkan kamu bisa mulai mengenali Ikhfa Syafawi saat membaca Al-Quran dan mencoba mempraktikkan cara membacanya yang khas.
Mengapa Penting Mempelajari Ikhfa Syafawi?¶
Mempelajari dan menguasai Ikhfa Syafawi, serta hukum-hukum Tajwid lainnya, bukanlah sekadar hafalan aturan. Ini memiliki beberapa tujuan dan manfaat penting:
- Menjaga Keindahan dan Keaslian Bacaan: Al-Quran diturunkan dengan cara baca tertentu yang diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ, dan kemudian diajarkan oleh Nabi kepada para sahabat, dan seterusnya hingga sampai kepada kita. Ilmu Tajwid, termasuk Ikhfa Syafawi, adalah ilmu yang mempelajari cara membaca Al-Quran sesuai dengan riwayat yang sahih. Dengan membaca sesuai Tajwid, kita menjaga keaslian cara baca Al-Quran.
- Menghindari Kesalahan (Lahn): Membaca Al-Quran tanpa Tajwid atau dengan Tajwid yang keliru bisa menyebabkan lahn (kesalahan). Lahn ada dua jenis: Lahn Jali (kesalahan besar yang bisa mengubah makna atau gramatika, haram jika disengaja) dan Lahn Khafi (kesalahan kecil terkait sifat atau hukum huruf, makruh jika disengaja, tapi mengurangi kesempurnaan bacaan). Kesalahan pada Ikhfa Syafawi biasanya termasuk Lahn Khafi, namun tetap mengurangi kesempurnaan dan keindahan bacaan.
- Menghormati Kalamullah: Al-Quran adalah firman Allah yang Mulia. Membacanya dengan hati-hati, benar, dan indah adalah bentuk penghormatan kita terhadap kalamullah. Menguasai Tajwid menunjukkan kesungguhan kita dalam berinteraksi dengan Al-Quran.
- Mendapatkan Pahala yang Sempurna: Membaca Al-Quran dengan Tajwid yang benar insya Allah akan mendatangkan pahala yang lebih besar. Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan merasa kesulitan, baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim). Usaha kita untuk belajar dan mempraktikkan Tajwid, termasuk Ikhfa Syafawi, termasuk dalam kategori ‘merasa kesulitan’ di awal, yang insya Allah akan berbuah pahala berlipat ganda.
Jadi, mempelajari Ikhfa Syafawi bukan hanya soal teknis bacaan, tapi juga soal menjaga tradisi keilmuan Islam, menghindari kesalahan, menghormati firman Tuhan, dan meraih pahala yang maksimal.
Tips Menguasai Ikhfa Syafawi¶
Menguasai Ikhfa Syafawi memang butuh latihan. Berikut beberapa tips yang bisa kamu terapkan:
- Cari Guru Tajwid: Cara terbaik untuk menguasai Tajwid adalah dengan belajar langsung dari guru (ustaz/ustazah) yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Guru bisa mengoreksi bacaanmu secara langsung dan memastikan kamu mempraktikkan posisi bibir dan dengung yang tepat. Belajar Tajwid tidak bisa hanya dari buku atau internet.
- Dengarkan Qari’ yang Masyhur: Dengarkan rekaman bacaan Al-Quran dari qari’ (pembaca Al-Quran) yang fasih dan diakui sanad serta keilmuannya, seperti Syaikh Abdurrahman As-Sudais, Syaikh Misyari Rasyid Al-Afasy, atau qari’ Indonesia yang sanadnya jelas. Perhatikan baik-baik bagaimana mereka membaca kalimat yang mengandung Ikhfa Syafawi. Tiru cara mereka membunyikannya.
- Latihan Berulang: Identifikasi ayat-ayat dalam Al-Quran yang mengandung Ikhfa Syafawi. Baca berulang kali ayat tersebut, fokus pada bagian yang ada hukum Ikhfa Syafawinya. Ucapkan perlahan, rasakan posisi bibir dan dengungnya.
- Rekam Bacaanmu: Cobalah merekam suaramu saat membaca ayat yang mengandung Ikhfa Syafawi, lalu dengarkan kembali. Bandingkan dengan bacaan qari’ favoritmu. Ini bisa membantumu mendeteksi kesalahan pada posisi bibir atau durasi dengung.
- Gunakan Mushaf Bertajwid: Beberapa mushaf Al-Quran modern dilengkapi dengan penanda warna untuk hukum-hukum Tajwid. Ikhfa Syafawi biasanya ditandai dengan warna tertentu (misalnya, biru atau ungu). Ini bisa membantu kamu mengidentifikasi letak Ikhfa Syafawi dengan lebih mudah saat berlatih.
Menguasai Ikhfa Syafawi memang membutuhkan kesabaran dan ketekunan, tapi hasilnya akan sangat memuaskan: bacaan Al-Quranmu akan terdengar lebih indah, benar, dan sesuai dengan tuntunan.
Fakta Menarik Seputar Hukum Mim Sukun¶
Hukum-hukum Mim Sukun (Ikhfa Syafawi, Idzhar Syafawi, Idgham Mimi) adalah bagian dari Bab Hukum Nun Sukun dan Tanwin, meskipun dibahas terpisah. Fakta menariknya adalah:
- Jumlah Huruf Idzhar Syafawi Paling Banyak: Dari 28 huruf hijaiyah, 26 huruf di antaranya menjadi sebab terjadinya Idzhar Syafawi saat bertemu Mim Sukun. Hanya huruf Ba dan Mim yang memiliki hukum khusus lainnya. Ini menunjukkan bahwa Mim Sukun secara default cenderung dibaca jelas, kecuali jika bertemu dua huruf yang memiliki kedekatan makhraj atau sifat dengung (yaitu Ba dan Mim itu sendiri).
- Ikhfa Syafawi Hanya Satu Macam: Berbeda dengan Ikhfa Haqiqi (yang disebabkan Nun Sukun/Tanwin bertemu 15 huruf), Ikhfa Syafawi hanya terjadi ketika Mim Sukun bertemu satu huruf saja, yaitu Ba. Ini membuatnya lebih mudah diidentifikasi.
- Pentingnya Makhraj dan Sifat Huruf: Adanya hukum Ikhfa Syafawi dan Idgham Mimi ini menekankan betapa pentingnya memahami makhraj (tempat keluar) dan sifat (karakteristik) huruf dalam ilmu Tajwid. Karena Mim dan Ba memiliki makhraj yang sama (bibir), dan Mim memiliki sifat dengung, maka pertemuannya menciptakan hukum bacaan khusus yang melibatkan artikulasi bibir dan dengung. Sementara pertemuan dua Mim (Mim dan Mim) yang sama makhraj dan sifatnya menghasilkan peleburan (idgham).
Ilmu Tajwid adalah bukti kedalaman dan ketelitian para ulama dalam menjaga kemurnian bacaan Al-Quran. Setiap detail, sekecil apapun, diperhatikan agar bacaan kita sama dengan bacaan yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Nah, itulah penjelasan lengkap tentang apa yang dimaksud hukum bacaan Ikhfa Syafawi, mulai dari pengertian, syarat, cara membaca, perbedaan dengan hukum lain, contoh, pentingnya mempelajari, tips, hingga fakta menariknya. Semoga penjelasan ini membantumu lebih memahami salah satu hukum dasar dalam ilmu Tajwid ini. Teruslah berlatih membaca Al-Quran dengan Tajwid yang benar, karena setiap huruf yang kita baca dengan fasih insya Allah akan menjadi pemberat amal kebaikan kita di akhirat kelak.
Bagaimana pengalamanmu saat pertama kali belajar Ikhfa Syafawi? Apakah kamu punya tips lain untuk menguasainya? Yuk, berbagi di kolom komentar!
Posting Komentar