Mengenal Apa yang Dimaksud Dzikir dengan Lisan: Panduan Simpel

Table of Contents

Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan dzikir dengan lisan itu? Mungkin sebagian dari kita sudah sering mendengar istilah ini, tapi belum sepenuhnya paham maknanya atau bagaimana cara melakukannya dengan benar. Yuk, kita bedah tuntas. Dzikir secara umum artinya adalah mengingat Allah SWT. Mengingat di sini bukan hanya sekadar tahu Dia ada, tapi mengingat kebesaran-Nya, nikmat-Nya, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya. Nah, dzikir ini punya banyak cara, salah satunya yang paling umum dan mudah dilakukan adalah dzikir dengan lisan, yaitu mengingat Allah dengan mengucapkan lafazh-lafazh yang telah diajarkan dalam Islam menggunakan mulut atau lidah kita. Ini adalah cara paling basic tapi punya dampak yang luar biasa.

Dzikir dengan lisan ini melibatkan organ fisik, yaitu lidah dan mulut, untuk mengeluarkan suara atau setidaknya menggerakkan bibir mengucapkan lafazh-lafazh mulia. Tujuannya adalah untuk senantiasa menghubungkan diri dengan Sang Pencipta di setiap waktu dan kesempatan. Ini berbeda dengan dzikir hati yang melibatkan perenungan dan perasaan di dalam batin tanpa harus mengucapkan. Keduanya penting, tapi dzikir lisan sering menjadi pintu gerbang menuju dzikir hati yang lebih mendalam. Bayangin deh, ketika kamu lagi sendirian atau bahkan di tengah keramaian, cuma dengan menggerakkan bibir atau mengucapkan pelan, kamu bisa langsung “tersambung” dengan Allah.

What is Dhikr with Tongue
Image just for illustration

Kenapa Dzikir dengan Lisan Itu Penting?

Ada banyak alasan kenapa dzikir dengan lisan ini punya posisi penting dalam ibadah kita sehari-hari. Pertama, ini adalah perintah langsung dari Allah SWT dalam Al-Qur’an dan anjuran kuat dari Rasulullah SAW dalam banyak hadits. Allah berfirman, “Ingatlah Aku, maka Aku akan mengingatmu.” (QS. Al-Baqarah: 152). Mengingat Allah dengan lisan adalah salah satu bentuk nyata menjalankan perintah ini.

Kedua, dzikir lisan itu mudah dilakukan di mana saja dan kapan saja, asalkan dalam keadaan suci dan di tempat yang layak. Kamu bisa dzikir sambil berjalan, sambil antre, sambil menunggu, bahkan sambil bekerja (tentu jika tidak mengganggu konsentrasi). Ini memungkinkan kita untuk terus menerus terhubung dengan Allah di tengah kesibukan dunia. Fleksibilitasnya ini membuat dzikir lisan jadi amalan yang bisa seamlessly terintegrasi ke dalam rutinitas harian.

Ketiga, dzikir lisan adalah salah satu cara paling efektif untuk membersihkan hati dari kotoran dosa dan kelalaian. Setiap ucapan dzikir yang tulus ibarat setetes air yang membersihkan noda di hati. Semakin sering lidah kita basah dengan dzikir, semakin bersih dan bercahaya hati kita. Ini membantu kita untuk lebih peka terhadap kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Hati yang bersih akan lebih mudah menerima hidayah dan merasakan ketenangan sejati.

Berbagai Macam Lafazh Dzikir dengan Lisan yang Populer

Ada beragam lafazh dzikir yang bisa kita amalkan dengan lisan. Masing-masing lafazh ini punya makna yang dalam dan keutamaan tersendiri. Mengenal lafazh-lafazh ini akan membuat dzikir kita jadi lebih bermakna. Berikut beberapa di antaranya:

Subhanallah (سبحان الله)

Lafazh ini artinya “Maha Suci Allah”. Mengucapkan Subhanallah adalah bentuk pengakuan kita atas kesucian Allah dari segala kekurangan, aib, atau sifat yang tidak layak bagi-Nya. Ini adalah bentuk tanzih, yaitu menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas. Mengucapkan lafazh ini mengingatkan kita bahwa Allah itu sempurna, berbeda dari makhluk-Nya.

Keutamaan mengucapkan Subhanallah sangat besar. Rasulullah SAW bersabda bahwa mengucapkan Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi timbangan amal. Mengucapkan Subhanallah 100 kali di pagi dan sore hari bisa menghapuskan dosa meskipun sebanyak buih di lautan. Ini adalah dzikir yang ringan di lisan tapi berat di timbangan amal.

Alhamdulillah (الحمد لله)

Lafazh ini artinya “Segala puji bagi Allah”. Mengucapkan Alhamdulillah adalah bentuk rasa syukur kita atas segala nikmat yang Allah berikan, baik yang kita sadari maupun yang tidak. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa semua kebaikan, kesempurnaan, dan pujian hanya milik Allah semata. Mulai dari bangun tidur, bisa bernapas, sampai nikmat iman dan Islam, semuanya patut disyukuri dengan Alhamdulillah.

Bersyukur dengan lisan melalui Alhamdulillah akan menambah nikmat Allah. Allah berfirman, “Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Selain itu, Alhamdulillah juga memenuhi timbangan amal sebagaimana disebutkan dalam hadits bersama Subhanallah. Ini mengajarkan kita untuk selalu melihat sisi positif dan mensyukuri karunia Allah dalam setiap keadaan.

Allahu Akbar (الله أكبر)

Lafazh ini artinya “Allah Maha Besar”. Mengucapkan Allahu Akbar adalah bentuk pengakuan kita atas kebesaran Allah yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada yang lebih besar, lebih kuat, atau lebih agung dari Allah. Lafazh ini sering diucapkan dalam takbir shalat, takbir hari raya, atau ketika melihat sesuatu yang menakjubkan atau mengerikan untuk mengingatkan diri bahwa kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah.

Mengucapkan Allahu Akbar menanamkan rasa kagum dan takut hanya kepada Allah. Ini membantu kita untuk tidak sombong dan tidak takut pada kekuatan makhluk. Ketika kita merasa lemah atau menghadapi masalah besar, mengucapkan Allahu Akbar mengingatkan kita bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar yang bisa menolong kita. Ini memberikan ketenangan dan keberanian.

Lailahaillallah (لا إله إلا الله)

Lafazh ini adalah syahadat tauhid, artinya “Tidak ada Tuhan selain Allah”. Ini adalah kalimat paling mulia dalam Islam, inti dari seluruh ajaran Islam. Mengucapkan Lailahaillallah dengan yakin dan tulus adalah kunci masuk surga. Lafazh ini meniadakan semua sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah.

Dzikir dengan Lailahaillallah adalah dzikir paling utama (afdhaludz dzikr). Rasulullah SAW bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah.” Mengucapkan lafazh ini secara rutin memperkuat akidah tauhid dalam diri kita. Ini membersihkan hati dari syirik kecil maupun besar, dan membuat kita hanya bergantung serta berharap kepada Allah. Lafazh ini memiliki bobot yang sangat berat di sisi Allah.

Astaghfirullah (أستغفر الله)

Lafazh ini artinya “Aku memohon ampun kepada Allah”. Mengucapkan Astaghfirullah adalah bentuk penyesalan dan permohonan ampun kita atas dosa dan kesalahan yang telah diperbuat, baik yang disengaja maupun tidak. Manusia tempatnya salah dan lupa, maka memohon ampun adalah kebutuhan mendasar setiap muslim.

Memperbanyak istighfar membawa banyak keberkahan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari setiap kegundahan, dan Allah memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud). Istighfar membuka pintu rezeki, menghilangkan kesulitan, dan mendatangkan ketenangan hati. Ini juga merupakan cara untuk mengakui kelemahan diri di hadapan Allah.

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad (اللهم صل على محمد)

Lafazh ini artinya “Ya Allah, berikan shalawat (rahmat dan pujian) kepada Nabi Muhammad”. Mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah bentuk cinta dan penghormatan kita kepada beliau, serta mengikuti perintah Allah dalam Al-Qur’an. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Bershalawat mendatangkan banyak kebaikan. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh kesalahan darinya, dan mengangkat sepuluh derajat baginya.” (HR. An-Nasa’i). Bershalawat juga merupakan sebab dikabulkannya doa dan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat.

Ini hanyalah sebagian kecil dari lafazh-lafazh dzikir yang bisa kita amalkan. Masih ada dzikir lain seperti Hasbunallah Wanikmal Wakil, La Haula Wala Quwwata Illa Billah, dan lain sebagainya yang juga punya keutamaan besar.

Tips Melakukan Dzikir dengan Lisan Secara Efektif

Dzikir dengan lisan itu mudah, tapi agar dampaknya maksimal, ada beberapa tips yang bisa kita terapkan:

  1. Hadirkan Hati: Meskipun ini dzikir lisan, usahakan hati juga ikut merasakan makna lafazh yang diucapkan. Mengucapkan Subhanallah sambil merenungi betapa sucinya Allah, mengucapkan Alhamdulillah sambil benar-benar merasa bersyukur, dsb. Kehadiran hati ini yang membedakan dzikir yang sekadar di mulut dengan dzikir yang mendalam.
  2. Fokus dan Konsentrasi: Hindari dzikir sambil memikirkan hal lain yang tidak relevan. Awalnya mungkin sulit, tapi cobalah untuk fokus pada lafazh dan maknanya. Jika pikiran melayang, segera tarik kembali. Latihan ini akan meningkatkan kualitas dzikir.
  3. Konsisten (Kontinu): Lebih baik dzikir sedikit tapi rutin setiap hari daripada banyak tapi hanya sesekali. Jadikan dzikir sebagai bagian dari kebiasaan harian. Misalnya, dzikir setelah shalat, sebelum tidur, saat perjalanan, atau saat istirahat.
  4. Diucapakan atau Digerakkan: Dzikir lisan itu minimal menggerakkan bibir dan lidah meskipun tanpa suara keras, sehingga diri sendiri bisa mendengar atau merasakan gerakannya. Ini membedakan dzikir lisan dengan dzikir hati. Mengucapkannya dengan suara pelan yang hanya terdengar oleh diri sendiri juga termasuk dzikir lisan dan sering dianjurkan untuk menghindari riya’.
  5. Pilih Waktu Mustajab: Ada waktu-waktu tertentu yang dianjurkan untuk berdzikir, seperti setelah shalat fardhu, di pagi hari setelah shalat Subuh, di sore hari menjelang matahari terbenam, atau di sepertiga malam terakhir. Berdzikir di waktu-waktu ini diharapkan lebih mendatangkan keberkahan.
  6. Pahami Maknanya: Mengenal dan memahami arti dari setiap lafazh dzikir yang diucapkan akan meningkatkan kekhusyukan dan dampaknya di hati. Luangkan waktu untuk belajar makna lafazh-lafazh tersebut.

Manfaat Dzikir dengan Lisan

Mengamalkan dzikir lisan secara rutin mendatangkan banyak manfaat, baik spiritual, mental, maupun bahkan fisik:

Manfaat Spiritual

  • Mendekatkan Diri kepada Allah: Ini adalah tujuan utama dzikir. Semakin sering mengingat Allah, semakin dekat kita dengan-Nya.
  • Pengampunan Dosa: Lafazh-lafazh seperti Astaghfirullah dan bahkan dzikir lainnya bisa menjadi sebab diampuninya dosa.
  • Peningkatan Derajat: Setiap ucapan dzikir yang tulus akan mengangkat derajat kita di sisi Allah.
  • Melindungi dari Godaan Setan: Setan paling tidak suka dengan orang yang sering berdzikir. Dzikir menjadi benteng yang melindungi diri dari bisikan jahat.
  • Memperoleh Pahala Berlimpah: Setiap huruf, setiap lafazh dzikir yang diucapkan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Manfaat Mental dan Emosional

  • Ketenangan Hati: Mengingat Allah adalah penenang hati yang paling ampuh. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
  • Mengurangi Stres dan Kecemasan: Saat cemas atau panik, dzikir bisa mengalihkan pikiran dari sumber kecemasan dan mengembalikan fokus kepada kekuatan Allah.
  • Meningkatkan Konsentrasi: Latihan fokus saat berdzikir bisa meningkatkan kemampuan konsentrasi dalam aktivitas lain.
  • Memperkuat Daya Ingat: Mengulang-ulang lafazh dzikir secara tidak langsung melatih daya ingat.
  • Membangun Optimisme: Mengingat kebesaran Allah dan janji-janji-Nya bagi orang yang berdzikir menumbuhkan rasa optimisme dan harapan.

Manfaat Fisik (Tidak Langsung)

  • Mengurangi Sakit Kepala: Ketenangan yang didapat dari dzikir bisa mengurangi ketegangan otot yang sering menjadi penyebab sakit kepala.
  • Menurunkan Tekanan Darah: Studi ilmiah menunjukkan bahwa meditasi atau praktik spiritual yang berulang-ulang seperti dzikir bisa membantu menurunkan tekanan darah.
  • Meningkatkan Kualitas Tidur: Hati yang tenang dan pikiran yang tidak terlalu penuh beban berkat dzikir bisa membantu seseorang tidur lebih nyenyak.
  • Meningkatkan Imunitas: Stres yang berkurang akibat dzikir bisa berdampak positif pada sistem kekebalan tubuh.

Tentu saja, manfaat fisik ini adalah dampak tidak langsung dari ketenangan hati dan pikiran yang dihasilkan oleh dzikir. Manfaat utamanya tetap pada penguatan hubungan spiritual dengan Allah.

Dzikir Lisan vs. Dzikir Hati: Dua Sisi Mata Uang

Ada perdebatan atau pertanyaan tentang mana yang lebih utama antara dzikir lisan dan dzikir hati. Sebenarnya, keduanya itu seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi.

Dzikir Lisan:
- Melibatkan ucapan/gerakan lidah.
- Lebih mudah dilakukan oleh pemula.
- Pahalanya jelas dan dihitung per lafazh/huruf.
- Bisa menjadi pintu gerbang untuk menghadirkan hati.
- Menguatkan syiar Islam jika dilakukan berjamaah (dalam batasan syar’i).

Dzikir Hati:
- Melibatkan perenungan, perasaan, dan kesadaran akan kehadiran Allah di dalam batin.
- Membutuhkan tingkat kesadaran dan kejiwaan yang lebih tinggi.
- Dampaknya sangat mendalam pada jiwa dan perilaku.
- Idealnya, dzikir lisan dilakukan bersamaan dengan dzikir hati.

Para ulama menjelaskan bahwa dzikir lisan itu penting sebagai permulaan dan penopang. Dengan melatih lidah untuk basah dengan dzikir, diharapkan hati akan ikut tersentuh dan pada akhirnya bisa mencapai tingkatan dzikir hati yang selalu merasa diawasi dan bersama Allah. Dzikir yang paling sempurna adalah ketika lisan berdzikir, hati hadir, dan anggota tubuh mewujudkan makna dzikir tersebut dalam perbuatan.

Ini bisa digambarkan dengan diagram sederhana:

mermaid graph TD A[Memulai Dzikir Lisan] --> B(Melatih Lidah & Ucapan); B --> C(Mengenal Makna Lafazh); C --> D(Mencoba Menghadirkan Hati); D --> E(Fokus & Konsentrasi Meningkat); E --> F(Dzikir Lisan & Hati Bersamaan); F --> G(Merasa Dekat dengan Allah); G --> H(Perilaku Lebih Baik);
Diagram di atas menunjukkan bagaimana dzikir lisan bisa menjadi jalan menuju dzikir hati dan kesempurnaan ibadah.

Menjadikan Dzikir Lisan Kebiasaan Harian

Mengintegrasikan dzikir lisan ke dalam rutinitas sehari-hari itu kuncinya. Berikut beberapa ide praktis:

  • Dzikir Pagi dan Sore: Alokasikan waktu khusus setelah Subuh dan setelah Ashar (atau menjelang Maghrib) untuk membaca dzikir-dzikir ma’tsur (yang diajarkan Nabi SAW).
  • Dzikir Setelah Shalat: Jangan buru-buru berdiri setelah salam. Luangkan waktu beberapa menit untuk membaca dzikir dan doa setelah shalat.
  • Saat Perjalanan: Manfaatkan waktu di mobil, kereta, atau saat berjalan kaki untuk berdzikir.
  • Saat Menunggu: Antre di bank, di kasir, menunggu jemputan, atau menunggu giliran dokter adalah waktu emas untuk berdzikir.
  • Sebelum dan Sesudah Tidur: Ada dzikir dan doa khusus yang diajarkan Nabi SAW sebelum tidur dan saat bangun tidur. Jangan lewatkan ini.
  • Saat Melakukan Tugas Rutin yang Tidak Membutuhkan Konsentrasi Penuh: Misalnya, mencuci piring, menyapu, atau sekadar duduk santai.

Buat target kecil. Misalnya, mulai dengan bertekad mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar masing-masing 33 kali setelah setiap shalat. Jika sudah terbiasa, tambah dengan lafazh lain atau tingkatkan jumlahnya. Jangan membebani diri terlalu banyak di awal, yang penting kontinu.

Fakta Menarik Seputar Dzikir

  • Tahukah kamu? Mengucapkan satu kali Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Illallah Wallahu Akbar lebih disukai oleh Rasulullah SAW daripada segala sesuatu yang matahari terbit di atasnya. Ini menunjukkan betapa besar nilai kalimat-kalimat ini di sisi Allah.
  • Ada riwayat yang menyebutkan bahwa ketika seseorang mengucapkan Lailahaillallah, maka kalimat itu akan naik menembus langit-langit sampai ke Arsy Allah, asalkan pengucapnya menjauhi dosa-dosa besar.
  • Dzikir juga merupakan salah satu amalan yang paling dicintai Allah, bahkan melebihi jihad di medan perang, kecuali jihad yang menyebabkan gugurnya seorang syahid dengan hartanya.
Lafazh Dzikir Makna Asasi Keutamaan Singkat
Subhanallah Maha Suci Allah Membersihkan diri dari syirik, memenuhi timbangan.
Alhamdulillah Segala puji bagi Allah Bentuk syukur, menambah nikmat, memenuhi timbangan.
Allahu Akbar Allah Maha Besar Mengagungkan Allah, menanamkan rasa takut hanya pada-Nya.
Lailahaillallah Tiada Tuhan selain Allah Kalimat tauhid paling mulia, kunci masuk surga.
Astaghfirullah Aku memohon ampun kepada Allah Sebab diampuni dosa, kelapangan, rezeki tak terduga.
Allahumma Shalli… Shalawat kepada Nabi Muhammad Mendapat balasan shalawat 10x, diangkat derajat, sebab syafaat.

Tabel ini hanya ringkasan, makna dan keutamaan setiap dzikir jauh lebih luas dan mendalam.

Penutup

Dzikir dengan lisan adalah amalan yang sangat powerful, mudah, dan mendatangkan manfaat yang tak terhitung, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah cara paling sederhana untuk senantiasa mengingat Allah, menjaga hati, dan meraih ketenangan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Jangan remehkan kekuatan ucapan lisan yang dilandasi keikhlasan dan pemahaman. Mulailah dari sekarang, basahi lidahmu dengan dzikir, dan rasakan perubahannya dalam hidupmu.

Sudahkah kamu rutin berdzikir dengan lisan? Lafazh dzikir apa yang paling sering kamu ucapkan? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar di bawah, yuk! Mari saling berbagi dan menginspirasi.

Posting Komentar