Apa Itu Wawancara? Penjelasan Santai Buat Kamu yang Penasaran

Table of Contents

Secara garis besar, wawancara itu adalah sebuah proses interaksi komunikasi antara dua pihak atau lebih. Tujuannya spesifik, yaitu untuk mendapatkan informasi atau pandangan dari salah satu pihak (biasanya disebut interviewee) oleh pihak lainnya (interviewer). Jadi, ini bukan sekadar ngobrol santai tanpa arah, tapi ada tujuan yang jelas, ada pertanyaan, dan ada upaya mendengarkan serta mencatat jawabannya. Ini adalah cara paling ampuh untuk menggali informasi yang mendalam, personal, dan seringkali nggak bisa didapatkan hanya dari dokumen atau observasi pasif.

Wawancara sering diibaratkan seperti menggali harta karun berupa pengetahuan atau perspektif langsung dari sumbernya. Bentuknya bisa macem-macem, mulai dari yang sangat terstruktur seperti sesi tanya jawab di pengadilan atau wawancara kerja yang ketat, sampai yang lebih fleksibel seperti obrolan santai dengan narasumber berita atau sesi konseling. Intinya, ada pertukaran informasi yang aktif dan terarah.

Apa yang Dimaksud dengan Wawancara
Image just for illustration

Kenapa Sih Kita Butuh Wawancara? (Tujuan Wawancara)

Wawancara itu punya segudang manfaat dan dipakai di berbagai bidang. Alasan utama orang atau institusi melakukan wawancara adalah untuk menggali informasi yang spesifik. Misalnya, seorang peneliti butuh memahami pengalaman hidup seseorang, jurnalis butuh kutipan langsung dari narasumber penting, atau HRD butuh menilai apakah seorang kandidat cocok dengan budaya perusahaan.

Tujuan utamanya bisa sangat bervariasi tergantung konteksnya. Dalam dunia kerja, tujuannya jelas untuk proses seleksi karyawan baru atau evaluasi kinerja karyawan lama. Di bidang penelitian, wawancara jadi metode utama untuk mengumpulkan data kualitatif, buat dapetin sudut pandang, opini, atau pengalaman pribadi responden.

Nggak cuma itu, wawancara juga penting di bidang medis atau psikologi untuk proses diagnosis dan terapi. Dokter atau psikolog perlu ngobrol langsung sama pasien buat memahami gejala, riwayat kesehatan, atau kondisi mental mereka. Bahkan di kepolisian, wawancara digunakan untuk interogasi atau mengumpulkan keterangan saksi.

Macam-Macam Bentuk Wawancara yang Perlu Kamu Tahu

Wawancara itu kayak bunglon, bisa berubah bentuk dan gaya tergantung kebutuhan dan tujuannya. Memahami berbagai jenis wawancara penting banget biar kita bisa memilih metode yang paling pas atau biar kita siap kalau sewaktu-waktu harus menghadapinya. Pengelompokannya bisa dilihat dari beberapa sisi, mulai dari strukturnya, jumlah pesertanya, tujuannya, sampai medianya.

Salah satu pengelompokan yang paling umum adalah berdasarkan tingkat struktur pertanyaannya. Ada wawancara terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur. Ketiga jenis ini punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan pemilihan jenisnya sangat bergantung pada apa yang ingin dicapai dari wawancara tersebut.

Wawancara Terstruktur

Bayangin kamu lagi mengisi survei lisan dengan pertanyaan yang sama persis buat semua orang, urutannya nggak boleh berubah, dan jawaban harus sesuai pilihan yang disediakan (meski kadang ada opsi ‘lainnya’). Nah, itulah wawancara terstruktur. Pewawancara berpegang teguh pada daftar pertanyaan yang sudah disiapkan dari awal sampai akhir.

Tujuannya biar data yang terkumpul seragam dan gampang dibandingkan antara satu responden dengan responden lainnya. Ini sering dipakai dalam penelitian kuantitatif atau survei besar di mana standarisasi itu kunci. Keuntungannya adalah data jadi objektif (dalam arti terkumpul dengan cara yang sama), analisisnya relatif mudah, dan meminimalisir bias dari pewawancara. Kekurangannya, suasana bisa terasa kaku, pewawancara nggak bisa menggali lebih dalam kalau ada jawaban menarik, dan responden mungkin merasa terbatas dalam memberikan penjelasan.

Wawancara Semi-Terstruktur

Jenis ini kayak gabungan antara terstruktur dan tidak terstruktur. Ada panduan pertanyaan atau topik utama yang udah disiapin sebelumnya, tapi pewawancara punya kebebasan buat ngembangin pertanyaan lain di luar daftar kalau memang ada hal menarik yang muncul selama percakapan. Urutan pertanyaannya juga bisa disesuaikan.

Ini adalah jenis wawancara yang paling sering dipakai di penelitian kualitatif, wawancara kerja, atau wawancara jurnalistik. Pewawancara punya cukup fleksibilitas buat ngeksplorasi jawaban responden lebih dalam, dapetin detail yang mungkin nggak kepikiran di awal, tapi tetap ada benang merah yang mau dikejar sesuai panduan. Hasilnya lebih kaya informasi dan nuansa, tapi analisis datanya butuh kerja ekstra dibanding yang terstruktur.

Wawancara Tidak Terstruktur

Kalau wawancara terstruktur itu kayak rel kereta api yang lurus, wawancara tidak terstruktur itu kayak sungai yang mengalir bebas. Nggak ada daftar pertanyaan baku yang disiapin sebelumnya, paling cuma topik besar atau isu yang mau diobrolin. Percakapan mengalir natural kayak ngobrol biasa.

Jenis ini cocok banget buat menggali pandangan yang sangat personal, mendalami pengalaman unik, atau saat kita pengen dapetin informasi yang benar-benar spontan dan nggak terpengaruh arahan pewawancara. Ini sering dipakai dalam penelitian eksploratif atau terapi psikologi di mana pasien diajak bercerita tanpa batasan. Kelebihannya, responden merasa nyaman dan bebas berekspresi, informasinya bisa sangat kaya dan mendalam. Tapi kekurangannya, butuh pewawancara yang sangat terampil biar obrolan nggak ngelantur, dan perbandingan data antar responden bisa sangat sulit.

Pengelompokan Berdasarkan Jumlah Peserta

Selain struktur, wawancara juga bisa dibedakan dari berapa orang yang terlibat. Ada wawancara individu (satu lawan satu), wawancara panel (satu interviewee, beberapa interviewer), dan wawancara massal (beberapa interviewee, satu atau sedikit interviewer).

Wawancara individual paling umum, cuma ada dua orang terlibat. Wawancara panel biasanya dipakai di seleksi kerja untuk menghemat waktu dan biar kandidat bisa dinilai dari berbagai perspektif sekaligus oleh beberapa orang dari divisi atau level berbeda. Wawancara massal, seperti Focus Group Discussion (FGD), sebetulnya lebih dari sekadar tanya jawab, tapi seringkali juga melibatkan diskusi antarpeserta untuk menggali pandangan kelompok.

Pengelompokan Berdasarkan Tujuan/Konten

Kalau dilihat dari tujuannya, ada banyak banget jenis wawancara spesifik. Yang paling sering kita dengar mungkin wawancara kerja. Tujuannya buat menilai apakah calon karyawan punya skill, pengalaman, kepribadian, dan nilai-nilai yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Pertanyaannya bisa seputar pengalaman kerja, skill teknis, studi kasus, sampai pertanyaan yang menggali motivasi dan kepribadian.

Ada juga wawancara penelitian yang tadi sempat disinggung, fokusnya ke pengumpulan data untuk studi ilmiah. Wawancara jurnalistik tujuannya buat dapetin informasi, kutipan, atau klarifikasi dari narasumber untuk sebuah berita atau artikel. Gayanya bisa hard interview yang langsung ke pokok masalah atau soft interview yang lebih santai.

Di bidang hukum, ada wawancara investigasi atau interogasi. Di sekolah, ada wawancara penerimaan siswa/mahasiswa. Di dunia marketing, bisa ada wawancara kepuasan pelanggan. Jadi, tujuanlah yang seringkali menentukan jenis dan gaya wawancara yang akan dilakukan.

Pengelompokan Berdasarkan Media

Terakhir, wawancara juga bisa dilakukan melalui berbagai media. Yang paling tradisional dan sering dianggap ideal adalah wawancara tatap muka (face-to-face). Kelebihannya bisa melihat bahasa tubuh, ekspresi, dan membangun rapport dengan lebih baik.

Tapi dengan kemajuan teknologi, wawancara via telepon atau wawancara video (lewat Zoom, Skype, Google Meet, dll.) semakin umum. Ini menghemat waktu dan biaya perjalanan, terutama kalau pewawancara dan interviewee berada di lokasi yang jauh. Meski nggak bisa melihat bahasa tubuh selengkap tatap muka, wawancara video masih memungkinkan interaksi visual yang cukup kaya.

Types of Interview
Image just for illustration

Apa Saja Komponen dalam Wawancara?

Wawancara nggak bisa terjadi kalau cuma ada satu orang. Minimal, ada dua pihak yang terlibat dengan peran berbeda. Komponen utamanya meliputi:

  1. Pewawancara (Interviewer): Orang atau pihak yang bertanya dan mengarahkan jalannya wawancara sesuai tujuan yang ingin dicapai. Pewawancara yang baik harus bisa mendengarkan aktif, peka terhadap situasi, dan menciptakan suasana yang kondusif.
  2. Terwawancara (Interviewee): Orang atau pihak yang memberikan jawaban, informasi, atau pandangan. Dialah sumber data atau informasi utama dalam proses wawancara.
  3. Tujuan: Alasan spesifik kenapa wawancara itu dilakukan. Apa yang mau digali? Informasi apa yang dibutuhkan? Tujuan ini yang menentukan jenis pertanyaan dan gaya wawancara.
  4. Pertanyaan: Alat utama dalam wawancara. Kualitas pertanyaan sangat menentukan kualitas informasi yang didapat. Pertanyaan bisa terbuka (membutuhkan jawaban deskriptif) atau tertutup (jawabannya ya/tidak atau pilihan).
  5. Setting/Konteks: Lingkungan atau situasi di mana wawancara berlangsung. Apakah di ruang kerja, kafe, online, atau tempat lain? Setting bisa mempengaruhi kenyamanan dan kelancaran wawancara.

Kelima komponen ini saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Keberhasilan sebuah wawancara sangat bergantung pada seberapa baik semua komponen ini berfungsi bersama.

Gimana Sih Proses Wawancara Itu Berjalan?

Wawancara itu bukan sekadar sesi tanya jawab singkat, tapi punya tahapan yang perlu dilalui biar hasilnya optimal. Biasanya, proses wawancara dibagi jadi tiga tahap utama: sebelum, selama, dan setelah wawancara.

Tahap Persiapan (Sebelum Wawancara)

Ini adalah tahap krusial yang seringkali menentukan berhasil nggaknya wawancara. Bagi pewawancara, persiapannya meliputi:
* Menentukan tujuan wawancara dengan jelas.
* Melakukan riset tentang topik atau narasumber (kalau ada).
* Menyusun panduan wawancara atau daftar pertanyaan (terutama untuk wawancara terstruktur atau semi-terstruktur).
* Menyiapkan alat bantu seperti alat perekam (dengan izin!), catatan, atau checklist.
* Menentukan waktu dan tempat yang pas dan nyaman bagi kedua belah pihak.
* Menyiapkan mental dan diri sendiri untuk bisa mendengarkan dengan baik.

Bagi terwawancara (misalnya dalam wawancara kerja), persiapannya meliputi:
* Riset tentang perusahaan atau topik yang akan dibahas.
* Mempelajari posisi yang dilamar (kalau wawancara kerja).
* Mempersiapkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin muncul.
* Menyiapkan pertanyaan balik untuk pewawancara.
* Memastikan logistik seperti lokasi, waktu, atau koneksi internet (untuk wawancara online).
* Menyiapkan penampilan diri.

Persiapan yang matang akan membuat proses wawancara lebih lancar, fokus, dan menghasilkan informasi yang lebih relevan.

Tahap Pelaksanaan (Selama Wawancara)

Pada tahap ini, interaksi langsung terjadi. Biasanya dimulai dengan:
* Pembukaan: Memulai percakapan, memperkenalkan diri (jika belum kenal), menjelaskan tujuan wawancara, dan meminta izin jika akan merekam. Menciptakan suasana santai (ice-breaking) penting biar terwawancara merasa nyaman.
* Inti Wawancara: Proses tanya jawab utama sesuai panduan atau alur obrolan. Pewawancara mengajukan pertanyaan, mendengarkan jawaban dengan aktif, dan mungkin mengajukan pertanyaan lanjutan untuk menggali lebih dalam (terutama di wawancara semi-terstruktur atau tidak terstruktur). Pewawancara juga perlu mencatat poin-poin penting atau memastikan alat perekam berfungsi.
* Penutupan: Memberi sinyal bahwa wawancara akan segera berakhir. Merangkum poin-poin penting (jika perlu), memberikan kesempatan terwawancara untuk bertanya balik, dan mengucapkan terima kasih atas waktu dan informasinya. Menjelaskan langkah selanjutnya juga bisa dilakukan.

Selama tahap pelaksanaan, kemampuan komunikasi, mendengarkan aktif, dan adaptabilitas sangat diuji.

Tahap Setelah Wawancara

Wawancara belum selesai setelah obrolan berakhir. Tahap ini penting untuk mengolah informasi yang sudah didapat. Bagi pewawancara:
* Membuat transkrip wawancara (jika direkam) atau merapikan catatan.
* Menganalisis data atau informasi yang terkumpul sesuai dengan tujuan awal.
* Menyusun laporan atau kesimpulan dari hasil wawancara.
* Mengirimkan ucapan terima kasih kepada terwawancara (opsional, tapi dianjurkan).

Bagi terwawancara (misalnya setelah wawancara kerja):
* Mengirimkan ucapan terima kasih kepada pewawancara (sangat dianjurkan).
* Melakukan evaluasi diri terhadap jalannya wawancara.
* Menunggu kabar selanjutnya atau melakukan tindak lanjut (jika diminta).

Proses setelah wawancara memastikan bahwa waktu dan tenaga yang diinvestasikan selama wawancara membuahkan hasil yang maksimal.

Kenapa Wawancara Itu Penting Banget?

Meskipun sekarang banyak metode pengumpulan data lain, wawancara tetap punya posisi istimewa dan penting. Salah satu alasannya, wawancara memungkinkan kita dapetin detail, konteks, dan insight yang mendalam langsung dari sumbernya. Dokumen atau data kuantitatif mungkin bisa kasih gambaran umum, tapi wawancara bisa cerita kenapa atau bagaimana sesuatu terjadi dari sudut pandang personal.

Lewat wawancara, kita juga bisa mengamati bahasa tubuh dan ekspresi wajah terwawancara, yang seringkali memberikan informasi tambahan di luar kata-kata yang diucapkan. Ini membantu kita memahami nuansa, emosi, atau tingkat keyakinan seseorang terhadap apa yang dia katakan. Interaksi langsung juga memungkinkan pewawancara membangun hubungan baik (rapport) dengan terwawancara, yang bisa bikin terwawancara merasa lebih nyaman dan terbuka.

Selain itu, wawancara memungkinkan fleksibilitas. Kalau ada hal menarik yang muncul di tengah percakapan, pewawancara bisa langsung menggali lebih dalam saat itu juga. Hal ini sulit dilakukan dengan metode lain seperti kuesioner tertulis. Jadi, wawancara itu metode yang sangat kaya dan dinamis untuk memahami manusia dan pengalamannya.

Tantangan dan ‘Jebakan’ dalam Wawancara

Meski punya banyak kelebihan, wawancara juga bukan tanpa tantangan. Salah satu yang utama adalah subjektivitas. Baik pewawancara maupun terwawancara membawa pandangan, pengalaman, dan bias masing-masing ke dalam percakapan. Pewawancara bisa tanpa sadar mempengaruhi jawaban dengan cara bertanya, dan terwawancara bisa memberikan jawaban yang dia pikir ingin didengar oleh pewawancara.

Bias ini bisa jadi masalah serius, terutama dalam penelitian atau seleksi kerja, kalau tidak dikelola dengan baik. Wawancara juga bisa memakan waktu dan sumber daya yang cukup besar, mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai transkrip dan analisis data. Bandingkan dengan menyebar kuesioner online ke ratusan orang.

Kemampuan komunikasi kedua belah pihak juga sangat mempengaruhi kelancaran dan kualitas wawancara. Kalau salah satu pihak sulit berkomunikasi atau tidak nyaman, informasinya bisa jadi terbatas. Terakhir, ada juga tantangan terkait etika, seperti menjaga kerahasiaan identitas terwawancara atau informasi sensitif yang dibagikan selama wawancara.

Tips Jitu buat yang Mau Wawancara (Baik Interviewer Maupun Interviewee)

Supaya wawancara bisa berjalan lancar dan menghasilkan informasi yang maksimal, ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan, baik saat jadi pewawancara maupun terwawancara.

Tips buat Interviewer (Pewawancara)

  • Persiapan itu Kunci: Jangan pernah datang tanpa persiapan. Tahu tujuanmu, riset narasumber/topik, dan siapkan pertanyaan (meski cuma panduan topik kalau wawancara tidak terstruktur).
  • Dengarkan Aktif: Fokus pada apa yang dikatakan terwawancara, bukan cuma nunggu giliran buat bertanya. Perhatikan nada suara, jeda, dan bahkan bahasa tubuhnya. Tunjukkan kalau kamu benar-benar mendengarkan.
  • Ciptakan Suasana Nyaman: Mulai dengan obrolan ringan, tersenyum, dan tunjukkan empati. Buat terwawancara merasa aman dan nyaman untuk berbicara terbuka.
  • Ajukan Pertanyaan yang Jelas dan Terbuka: Hindari pertanyaan leading (yang mengarahkan jawaban) atau pertanyaan yang bisa dijawab cuma ‘ya’ atau ‘tidak’ kalau kamu pengen menggali lebih dalam. Gunakan pertanyaan “Bagaimana…”, “Ceritakan tentang…”, “Apa yang kamu pikirkan tentang…”.
  • Jangan Takut Diam Sejenak: Setelah terwawancara selesai bicara, beri jeda singkat sebelum kamu bertanya lagi. Kadang, di jeda itulah mereka kepikiran buat nambahin informasi penting.
  • Catat atau Rekam (dengan Izin!): Jangan hanya mengandalkan ingatan. Catat poin-poin penting atau rekam seluruh percakapan (pastikan terwawancara tahu dan mengizinkan).

Tips buat Interviewee (Terwawancara)

  • Lakukan Riset: Kalau wawancara kerja, pelajari perusahaannya. Kalau wawancara penelitian, pahami topik besarnya. Ini menunjukkan antusiasme dan kesiapanmu.
  • Latihan tapi Jangan Menghafal: Siapkan jawaban untuk pertanyaan umum, tapi jangan menghafalnya sampai kaku. Tampil natural. Latihan berbicara di depan cermin atau bersama teman bisa membantu.
  • Jujur dan Otentik: Sampaikan pandangan atau pengalamanmu apa adanya. Kejujuran seringkali lebih dihargai.
  • Tunjukkan Antusiasme (kalau memang ada!): Ekspresikan minatmu terhadap topik atau kesempatan tersebut. Bahasa tubuhmu juga penting.
  • Siapkan Pertanyaan Balik: Ini menunjukkan bahwa kamu punya minat dan sudah berpikir serius tentang topik atau posisi tersebut.
  • Kontak Mata: Jaga kontak mata dengan pewawancara (atau lihat ke kamera kalau wawancara online). Ini menunjukkan kepercayaan diri dan ketertarikan.
  • Ucapkan Terima Kasih: Baik di akhir wawancara maupun melalui email setelahnya. Ini etiket dasar yang penting.

Interview Session
Image just for illustration

Fakta Menarik Seputar Wawancara

Tahukah kamu? Wawancara sebagai metode pengumpulan data kualitatif di ilmu sosial mulai populer di awal abad ke-20. Salah satu buku landmark yang mempopulerkan penggunaan wawancara mendalam adalah “The Polish Peasant in Europe and America” karya William Isaac Thomas dan Florian Znaniecki yang terbit tahun 1918-1920. Mereka menggunakan surat-surat pribadi, otobiografi, dan catatan harian, yang bisa dibilang bentuk awal dari data “wawancara” personal.

Dalam dunia jurnalistik, wawancara jadi tulang punggung. Salah satu wawancara yang paling terkenal sepanjang sejarah adalah wawancara yang dilakukan David Frost dengan mantan Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, pada tahun 1977. Wawancara ini menjadi sorotan karena Nixon akhirnya mengakui perbuatannya terkait skandal Watergate. Ini menunjukkan betapa kuatnya sebuah wawancara dalam menggali kebenaran.

Di sisi lain, di dunia startup, ada konsep customer development interview yang dipopulerkan oleh Steve Blank. Tujuannya bukan jualan, tapi memahami masalah dan kebutuhan calon pelanggan dengan ngobrol langsung sama mereka. Ini bukti bahwa wawancara bukan cuma buat cari kerja atau riset skripsi, tapi juga bisa jadi alat penting buat membangun bisnis sukses.

Mari Berdiskusi!

Gimana, sekarang sudah lebih jelas kan apa itu wawancara dan seluk beluknya? Mungkin kamu punya pengalaman wawancara yang seru, menantang, atau bahkan lucu? Atau ada tips lain yang mau kamu tambahkan? Yuk, ceritakan pengalaman atau pendapatmu di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar